Minyak Tanah

Mama   :               Pa, si Fulan minta seragam tea!
Bapa      :               Ooh heu euh..
Saya       :               Siapa si Fulan, Mah?
Mama   :               Itu anaknya yang jaga makam yang datang tadi malam
Saya       :               Emang dia bilang dia minta seragam
Mama   :               Enggak, cuma kan ada seragam bekas Kiki, Dede juga
                                Kasian anak itu, dibiayai awalnya sama RT – RT di sini,
                               biar bisa masuk sekolah saja dulu,
                                Sekarang malah dibiarkan, tapi memang sekolahnya gratis,
                               anaknya juga punya tekad kuat
Bapa      :               Itu yang dekat Rumah Sakit, PLS, Pendidikan Luar Sekolah,
                                Ada ujiannya juga, nanti statusnya setara atau disamakan
Mama   :               Anak-anaknya teh pada jualan minyak
Saya       :               Hah, minyak?
Mama   :               Iya minyak tanah, untuk menambah biaya sekolah,
                                Mungkin karena sekolahnya kekurangan biaya,
                                Seharusnya pemerintah teh memberikan bantuan!
Bapa      :               Itu juga mungkin sudah diberikan bantuan oleh pemerintah,
                                 makanya gratis juga,
                                 Cuma mungkin masih kurang makanya anak-anaknya disuruh
                                 berjualan minyak tanah
Saya       :               Sama sekolahnya?
Mama   :               Iya, kalau siang-siang, mungkin pas istirahat sekolah,
                                 Kalau lagi ke sini teh pada teriak “minyak, Pak! minyak, Bu!”
                                Pengen beli, tapi disini beli minyak dah biasa ke warung
Saya       :               Pake seragam?
Mama   :               Iya,
                               Yang dagang juga bareng, laki-laki sama yang perempuan,
                                Yang laki-laki yang dorong gerobak,
                                yang perempuannya mungkin nyatet-nyatet,
                                Iya ya, kemana ya Pa, sudah jarang kelihatan lagi mereka teh?

 

Aku dah gak bisa lagi nahan mata ini, otakku dah gak kuat lagi menciptakan visualisasi-visualisasi dari obrolan sore itu, terlalu menyakitkan menurutku, di daerah lain mungkin lebih banyak lagi kasus-kasus seperti ini, atau mungkin lebih menyakitkan!

Terlalu banyak variabel ironis dalam kehidupan ini, ada yang dengan mudah meraih segalanya atau bahkan apa yang ia inginkan datang dengan sendirinya tanpa harus diraih, ada yang meraih impiannya dengan sedikit usaha, ada yang benar-benar harus berusaha keras, ada yang hanya senang memiliki impian tanpa berusaha mewujudkannya, dan ada yang harus bertahan keras melewati saat ini dan baru berharap bisa memutuskan apakah ia akan memiliki impian bila berhasil bertahan, hingga… satu tahun ke depan? satu bulan ke depan? Satu minggu ke depan?  hari ini?

Tiba-tiba saja pikiranku menerawang, mencoba menerka-nerka kejadian di dalam kelas mereka, mungkin pernah saudara-saudara kita ini berbisik lirih kepada teman di sebelahnya… “Satu jam istirahat nanti mudah-mudahan kita bisa menjual beberapa liter minyak tanah ini, dan kita akan tetap bisa sekolah, gratis”

Jendela Yang Terbuka Setengah

Remaja tanggung itu masih berdiri di luar, menatap papan tulis hitam di dalam kelas melalui jendela yang terbuka setengah. Di dalam, nampak orang-orang yang lebih tua darinya dalam kesibukan masing-masing, mencatat, mengetik, menumpuk dan memilah-milah berkas, semuanya dilakukan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Hari ini adalah terakhir, setidaknya begitulah bunyi pengumuman yang ia dengar beberapa hari yang lalu. Tapi bukan itu yang membuatnya sedikit khawatir. Matanya yang tak lepas dari sederet kata yang tertulis paling atas dalam rentetan daftar pada papan tulis, itulah yang membuatnya tengah berpikir.  SMAN 5 = 1. Pikirannya kembali menerawang ucapan bapaknya.

“Kakak sepupumu yang satu di SMAN 10,

“Kakak sepupumu yang lain di SMAN 4,

“Kakak sepupumu yang laki-laki di SMAN 5”,

Itu dia, hidupnya yang tak lepas dari kekagumannya terhadap salah satu kakak sepupunya membuat dirinya secara tidak sadar, atau mungkin setengah sadar, memiliki keingingan untuk mengikuti jejak kakaknya ini. Di sekolah yang sama, menekuni hobi yang sama, mengikuti organisasi yang sama, ah… betapa menarik hidupnya nanti karena ia akan menjadi sama dengan orang yang ia kagumi, pikirnya.

Tapi ada yang salah, pasti ada sesuatu yang kurang pas, karena ia tak jua melepaskan pandangannya dari puncak daftar tersebut. Ia tidak mengerti, gerangan apa yang membuat dirinya belum yakin, ia ingin bercerita, ia ingin mengadu, tapi hari ini… dia sendirian.

“Sudah siang,” ia membatin tatkala melihat jam dinding dalam kelas, dari luar melalui jendela yang terbuka setengah.

Ia pun berjalan menjauhi kelas itu, meninggalkan pekarangan, keluar dari gerbang, berjalan dengan pelan, cukup pelan, hingga akhirnya berhenti, tepat di pinggir jalan, di perempatan, 50 meter dari gerbang sekolah. Berhenti, bukan karena hendak menyeberang, berhenti, bukan karena ada kendaraan yang lewat, siang itu sepi, sungguh sepi sekali. Berhenti, karena ia teringat sepenggal ingatan, ingatan satu setengah tahun yang lalu.

Ia berbalik, melangkah, berjalan pelan, setengah berlari, hingga kemudian ia berlari, kencang sekali. Berlari, melewati gerbang, melewati pekarangan, mendekati kelas itu kembali. Berdiri di depan jendela yang terbuka setengah, berusaha menarik perhatian salah seorang pria di dalam kelas, yang lebih tua darinya. Upayanya berhasil, pria itu mendekatinya, dari dalam kelas, melalui jendela yang terbuka setengah.

“Pak…, huh..huh..,” bicaranya tersengal-sengal.

“Pak, masih bisa dirubah kan?” Nadanya penuh harap, tetap tersengal-sengal.

Pria itu seolah mengerti maksud si remaja tanggung, menoleh ke belakang dan bertanya kepada rekannya. Rekannya nampak sibuk selama beberapa saat hingga akhirnya menggeleng kepada pria itu.

“Berkasnya belum dikirim, jadi masih bisa dirubah..”

“Pak, saya mau ke SMAN 3,”

Pria itu terdiam sesaat, kemudian tersenyum. Ia berjalan, menjauhi jendela yang menghalanginya dan si pemuda tanggung, berjalan, mendekati papan tulis hitam yang penuh dengan rentetan daftar, mengambil buntalan kain yang biasa digunakan untuk menghapus tulisan kapur dan ia hapus sebaris paling atas dari rentetan daftar di papan, kemudian ia menuliskan kembali sesuatu.

SMAN 3 = 1

 

Satu Setengah Tahun yang Lalu

Hari ini guru Bahasa Inggris kami gak masuk, yang tengah berdiri di depan adalah guru penganti sementara. Aku gak begitu kenal dengannya, ia mengajar di kelas lain, tapi sesaat saja ia mengajar aku langsung mendapat kesan kalau ia orangnya baik, tutur katanya halus, suaranya lemah lembut, gaya berjalannya anggun.

Entah darimana awalnya, tiba-tiba ia membahas tentang melanjutkan pendidikan, ia berkeliling kelas menanyakan minat murid-muridnya, tidak semua yang ia tanya, hanya beberapa saja, hingga akhirnya ia berjalan menuju ke arahku.

Aku mendapatkan pertanyaan yang sama, kemana minatku untuk melanjutkan pendidikan, namun ada perasaan aneh ketika ia menanyakan itu, seolah-olah ia mengenalku dengan baik, perasaanku menjadi lebih aneh lagi, ketika dalam pikiranku aku tengah diam kebingungan menjawab karena terus terang aku memang belum pernah memikirkan akan melanjutkan kemana setelah selesai sekolah di sini, tiba-tiba ia menyahut

“Ah, Lulus mah mau ke SMAN 3 yah?” 

Jangan bungkam… bicaralah!

Dalam salah satu sesi kuliah SIA (Sistem Informasi Akuntansi), dosenku menjabarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, beliau bilang kalau materi ini nampaknya belum diajarkan di universitas lain karena memang materi ini baru (dan memang kalo misalnya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur dan kawan-kawannya kayaknya nggak akan diajarin deh, Pak!!), bla.. bla.. bla… singkat cerita sampailah materinya kepada Unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI), beliau bilang Unsur SPI dalam Peraturan Pemerintah (PP) ini mirip dengan komponen SPI yang dijabarkan COSO (The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission), bahkan pengertian pengendalian intern di PP ini juga mirip dengan defnisi Pengendalian Intern versi COSO. Jadi saudara-saudaraku yang berbahagia, COSO ini semacam organisasi yang memberikan panduan untuk para eksekutif perusahaan dan juga organisasi pemerintah agar dapat menjalankan business process atau operasional organisasinya menjadi lebih efektif dan efisien, dan di beberapa buku teks yang membahas pengendalian intern, COSO sering dijadikan referensi utama.

So whats the big deal, bro??

Dosenku bilang sebenarnya apa yang dijelaskan atau dirumuskan oleh COSO ini adalah sesuatu yang lumrah, yang lazim, biasa saja dan memang seharusnya seperti itu dimana-mana. Lalu bagaimana hal ini bisa menjadi sebuah standard? Menjadi panduan yang digunakan dimana-mana? Diajarkan ke jutaan mahasiswa?

Dosenku kemudian bilang kalau orang Amerika itu semenjak TK diajarkan untuk bercerita, contoh: mereka dapet PR untuk memperhatikan binatang peliharaan mereka di rumah, anak yang gak punya binatang peliharaan disuruh mencari binatang yang ada di sekitar rumah, mereka harus menceritakan tentang apa yang mereka lihat itu di kelas. Ada yang inget film ‘Kindergarten Cop’? Arnold Schwazenegger menyuruh murid-murid tknya untuk bercerita tentang pekerjaan ayahnya, bisa jadi ilustrasinya adalah seperti itu.

Kembali ke cerita binatang, nah semua murid bercerita dan gurunya selalu memberikan appresiasi positif kepada murid-muridnya, “Good job, Son!!”, “Excellent, Catherine!!”, “Nice Story, Tyler!!” dan sebagainya.  Cerita yang dianggap paling bagus akan diberi hadiah oleh gurunya seperti puzzle, buku teka-teki (ada yang nonton film ‘Mercury Rising’?), atau dikasih bintang – star of the day (tonton deh film ‘The School of Rock’!).

Intinya adalah, mereka (Americans) terbiasa untuk mengekspresikan sesuatu, terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di benak pemikiran-pemikiran, ide-ide kecil, hal-hal yang dilihat di jalanan, di kantor, di rumah, bersama nenek-kakek, bersama pasangan (yuhu, Why Men  Cant Listen and Women Cant Read Maps), menceritakannya di kelas, mendiskusikannya bersama teman, memperdebatkannya bersama kolega, menuliskannya, mengekspose, mendapat pulitzer, noble awards, dan lain sebagainya. Sedangkan kita, beberapa di antara kita, saya, terbiasa memikirkan sesuatu namun tak urung jua mengungkapkannya.

Jadi kalau di dalam satu kelas ada mahasiswa Amerika, Eropa dan Asia (termasuk Indonesia), ketika dosen bertanya tentang sesuatu, semua mahasiswa mengerenyitkan dahi, berpikir, mahasiswa Indonesia diam, mahasiswa Amerika mengacungkan tangan dan menjawab, mahasiswa Indonesia bilang ‘lha itu mah gue juga tahu tuh!!’.

Di Amerika dibiasakan bagaimana siswa mampu mengamati sesuatu, dan bagaimana siswa mampu mengilustrasikan kembali apa yang telah dia amati, baik dengan cara mempresentasikannya, menuliskannya atau dengan seminar dan sebagainya. Bagaimana di Indonesia? Kayaknya kita jarang deh disuruh mengamati sesuatu, bercerita, kemudian kalau ceritanya paling bagus dapat hadiah dari bapak/ ibu guru. Ingat! tidak ada cerita yang jelek, semua cerita bagus, hanya saja yang dianggap ‘paling bagus’ yang dapat hadiah.

Apa yang dikisahkan oleh dosen ini benar-benar menohok diriku, yeah I’ve got such feeling, seringkali meremehkan fase dimana sesuatu ditanyakan, tahu jawabannya, takut jawabannya salah, orang lain mengacungkan tangan, menjawab dengan jawaban yang berbeda dari kita, jawabannya ternyata betul, kita bilang dalam hati ‘bah, untung tak aku keluarkan jawabanku satu itu’. Lain kesempatan dan pertanyaan, orang lain menjawab dengan jawaban yang sama dengan kita, jawabannya ternyata betul, kita bilang dalam hati ‘huuuu, itu mah jawaban gue juga tuh, gue juga bisa’. Jangan salah Bung, aku pernah kalah nilai gara-gara kawanku satu itu mendadak jadi sering mengacungkan tangan bertanya atau menjawab, salah ataupun betul.

Banyak hal dan kejadian seperti itu, termasuk menulis di sini, dari dulu banyak yang mau kuungkapkan di sini, eksekusi hukuman cambuk di Blang Pidie, jalan-jalanku ke Nol Kilometer Indonesia, kesempatan dapat dinas ke Mataram, termasuk respon orang-orang di Indonesia tatkala di Amerika tengah terjadi persaingan antara dua orang dalam mendapatkan kursi presiden, kecenderungan beberapa orang di indonesia memihak pada salah seorang kandidat dengan harapan membawa perubahan kepada Indonesia, kawan, aku beritahu ‘whoever wins, we lose’ (pasti engkau tahu kalo ini kuambil dari taglinenya film ‘Alien Vs Predator’).

Tapi entah mengapa setiap kali ide-ide, cerita-cerita itu muncul, sebelum akhirnya dikemukakan, ditengah –tengah lenyap begitu saja, sekarang aku sedikit banyak tahu jawabannya, aku tak biasa. Good thought then, saya harus membiasakan diri mengungkapkan sesuatu, mengilustrasikan sesuatu.

Pernahkah  membaca sebuah buku teks, membaca pendefinisian, penjabaran-penjabaran tentang sesuatu atau perumusan tentang sesuatu yang digunakan dimana-mana, bukunya best seller, materinya paling dicari, namun kesan yang muncul di benak setelah membacanya adalah ‘hal-hal tersebut koq biasa saja?’ Yeah, aku pernah, sering. Termasuk ketika pertama kali membaca definisi pengendalian intern versi COSO, jauh sebelum sesi kuliah ini.

‘Sebuah proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan personil lain, didesain untuk menyediakan kepastian terhadap pencapaian tujuan dalam efisiensi dan efektivitas dari operasi, kehandalan laporan keuangan dan kepatuhan tehadap penerapan hukum dan peraturan’

Anything specials?

 

Ps: check this out… versi lain dari sesi kuliah ini

Dont Do That in My Computer

Pagi ini sy sengaja bangun telat dan gak langsung ke kantor, sy ingin menikmati suasana weekend pagi di rumah dulu sebelum ke kantor. Bangun tidur langsung nyetel tipi, cari2 channel yg menarik, tapi sayang pagi ini semua channel yang tertangkap antenna cap tiga jari di Banda Aceh (baca: sedikit) kalo gak infotainment ya reality show yang “enggak banget deh”, yah terpaksa menghela napas dan memilih salah satu acara inpotainmen yang tersaji.

Sambil bikin mie goreng, akhir-akhir ini lg pengen balik ke kebiasaan dulu.. pemangsa mie goreng tulen, saya coba dengerin ada berita apa di inpotainmen. Guess what… Mak Erot meninggal!!

Genggaman itu mengendur, asanya sudah tidak memperdulikan lagi udara, matanya tajam menukik, tumpahan terigu olahan itu sudah ia tidak anggap lagi, inilah masa ia ketika hanya telinga yang bicara…

hoexx.. aneh kata2 di atas…

wow, mak erot meninggal, kata inpotainmennya sih kabar mak erot meninggal ini baru disampaikan kepada pihak kelurahan setelah 21 hari, hmmm… sebuah misteri.

Tidaaak… Mak… saya belum mampir Maak…

eits… jangan berprasangka baik dulu, saya mampir bukan mau mencoba kedigdayaan mak erot menciptakan inflasi pada kepercayaan diri laki-laki (some of), tapi dalam rangka penilitian, observasi dan wawancara buat thesis saya nanti yang berjudul “Peranan Bambu Hijau yang Ramah Lingkungan dalam Memberikan Cita Rasa terhadap Ketan Olahan kaitannya dengan Sugesti Laki-laki terhadap Pasangannya bahwa Pasangannya menyukai ukuran Ketan Yang Sebesar Bambu”

wah, untuk yang sudah mencoba jasa mak erot nampaknya harus sedikit was-was mengkhawatirkan layanan purna jual, ketersediaan suku cadang dan garansi ukuran kembali..

Bagaimanapun jadinya… Innalillahi Wa Inna Ilahi Rojiun

yang pasti sudah cukup bagi saya menyaksikan inpotainmen pagi itu.

Saatnya berangkat ke kantor, after i took a bath of course.

———————————————————————————

Sesampainya di kantor saya terkejut (gak sampai lompat kebelakang dengan mulut menganga), komputer yang biasa saya pake menyala… tp bukan itu yang bikin saya sedikit terkejut, di meja komputer ada asbak ukuran xl dengan isi full puntung rokok, gila ni orang, candu apa napsu???

Perasaan saya gak enak… akhirnya sy coba liat monitor yang menyala, nothing, perasaan saya masih gak enak, saya buka firefox dan coba masuk yahoomail… wait a second… biasanya ada cache / sugesstion yang muncul di address bar kalo kita mulai mengetik, ini malah kosong, coba diklik dropdownnya juga gak keluar apa-apa, hmm.. somebody has tried to clear the cache. I dont like this, saya ngerasa cache ini berguna banget terutama kalo mo mengunjungi suatu halaman apalagi kalo sering dan berulang-ulang kayak saya, cuma ada satu alasan kenapa orang meng-clear kan cache…

Ada satu yang saya kira biasanya orang lupa kalo berniat seperti itu, membersihkan history. Dugaan saya tepat, pas saya buka history ternyata…. $&*(@*(^)^&#@!!!! Tebakan saya Betul… orang ini habis buka situs-situs porno, banyak, ARRGGH!!

hmm.. saya coba check di recent document, gak ada file bebau ponro yang dibuka, well berarti dy gak download n play the content, atau bisa jadi hanya sedikit yang didownload, dimainkan dan dia langsung menghapus secara manual recent documentnya satu-satu…

Beberapa media player saya coba nyalaain bwt ngeliat history apa ada yang dimainkan oleh si pelaku, hyaaax.. ternyata di winamp ada satu file yang nongkrong dan guess what.. dari judulnya aja keliatan kalo itu xxx-file, saya coba liat file infonya, hmmm dimainkan langsung dari flashdisk.

Kalo urusan yang terakhir ini saya tahu siapa pelakunya karena saya tahu siapa pemilik filenya, hanya saja saya gak nyangka “berani-beraninya” dia play di komputer yang biasa sy pegang. Tapi yang saya tahu adalah dy gak merokok…. ARGGGH… ada dua pelaku ternyata!!!

PLISS DONG, both of you telah mencemarkan nama baik komputer yang sy pegang, terlebih ngilangin cache yang setia membantu saya, kalo kalian mo bagi2 file xxx ke sy, its ok, sy pasti terima dengan senang hati tapi JANGAN buka situs2 ponro atau file xxx nya di komputer ini!!!

Wait a second, saya mulai memiliki hipotesa bahwa si pelaku mengetahui juga kabar tentang mak erot, ia merasa frustasi karena kehilangan kesempatan mewujudkan impiannya mendapatkan “Bamboo”, saking frustasinya ia menghisap rokok secara berlebihan dan membuka-buka situs ponro demi “membesarkan” hatinya, sama saja dengan kawannya yang satu lagi….

TAPI TETEP… DONT DO THAT IN MY COMPUTER

 

Akhirnya Datang Juga

here it comes… Penilaian Barang Milik Negara yang tengah gencar dilaksanakan di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara akhirnya menunjukkan taringnya, empat tim penilaian Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Banda Aceh telah resmi mendapatkan surat tugas untuk melaksanakan penilaian di beberapa Kota/Kabupaten di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, dalam kloter pertama telah berangkat dua tim penilaian ke Aceh Selatan dan Aceh Barat, kesempatan kedua telah berangkat kembali satu tim menuju ke Aceh Tenggara, dan satu tim terakhir akan berangkat berselang empat hari dari sebelumnya menyusul ke wilayah Aceh Selatan.

Banyak hal yang terjadi ketika tim terakhir hendak berangkat, mulai dari adanya sosialisasi Sistem Informasi Eksekutif bagian Kepegawaian yang baru sehingga menunda jadwal keberangkatan tim keempat ini, kemudian salah seorang anggota tim yang terkena typus sehingga membuat tim sempat mengadakan beberapa pertimbangan untuk tidak mengijinkan anggota tersebut ikut tugas karena dikhawatirkan membahayakan kondisi kesehatannya, dan sempat ada permintaan bantuan penilaian dari KPKNL Bandung namun tidak dapat dilaksanakan oleh tim penilaian KPKNL Banda Aceh karena anggota tim keempat ini sudah menyebar untuk kembali bertemu di Aceh Selatan.

Waktu yang masih tersisa sebelum berangkat digunakan oleh masing-masing anggota untuk mempersiapkan hal-hal yang diperkirakan akan sangat dibutuhkan di lapangan, menyelesaikan berbagai hal agar tidak menjadi beban saat melaksanakan tugas di luar nanti, and you know what? banyak sekali ternyata yang harus diselesaikan menjelang keberangkatan tim ini (at least for one of their member)…

  • menyiapkan berbagai persyaratan untuk mendapatkan Kartu Pegawai Negeri Sipil bagi empat pegawai yang baru saja diangkat menjadi PNS dan ternyata salah satu dari empat orang ini menyimpan persyaratannya di rumah padahal ia sedang di Aceh Selatan, jadi yang baru dipersiapkan hanya tiga orang
  • menyiapkan salinan surat tugas sebagai bukti bahwa ia tidak bisa mengikuti kuliah pada rentang waktu tercantum, untuk diserahkan kepada dosen-dosennya bersama dengan surat tugas temannya yang lain
  • menyiapkan cetakan rekapitulasi absensi elektronik dengan sistem fingerprint
  • mengumpulkan dan menyalin file-file milik salah seorang Eselon IVa di kantor yang mendapatkan mutasi ke KPKNL Surakarta dari beberapa komputer ke dalam harddisk eksternal
  • mencari barang untuk dikirim kepada seorang teman untuk diberikan sebagai pengganti barang (yang sama) yang katanya terjatuh
  • dan ada lagi seorang temannya yang meminta bantuan
  • menyalin file-file yang dibutuhkan dalam rangka penilaian ke dalam harddisk eksternal (untuk dibawa ke lapangan tentunya)
  • mencuci baju!!!!!! (kayaknya gak usah dijelaskan tujuannya untuk apa)
  • menulis di blog ini untuk berpamitan….

so, selama 23 hari ke depan nampaknya blog ini akan kembali ditinggalkan oleh pemiliknya, mohon do’anya semoga lancar dalam perjalanan dan ketika melaksanakan tugas. Amin.

Satotema

Pernah suatu pagi saya kehilangan kunci pintu kamar kost yang saya pegang, saya sudah mencoba mencari di beberapa tempat tapi tidak membuahkan hasil, dalam kecemasan saya berharap tebakan terakhir ini betul, di kantor. Ya, malam sebelumnya memang saya menginap di kantor, beruntung karena dua teman saya tidur di kost, pagi itu saya masih bisa masuk. Jadi dengan meninggalkan pintu kamar tidak terkunci saya berangkat ngantor. Sesampainya di kantor sudah bisa ditebak apa yang saya lakukan pertama kali, mencari kunci. Saya mencoba mengingat tempat-tempat yang saya lewati dan mencarinya di situ, namun nihil. Akhirnya saya mencoba bertanya kepada seorang pegawai yang memang selalu datang awal untuk membersihkan beberapa ruangan di kantor, dia merogoh saku kemejanya dan wuohohohooohoho… ternyata dia menemukan kunci itu dan sudah mengamankannya, segera aku ambil kunci itu dari tangannya dan pergi. Tiba-tiba saja ia mengucapkan “Terima kasih…”, spontan aku berhenti dan menengoknya, dengan sedikit canggung aku mengulang perkataannya…”Te..Terima Kasih….”.

Aku tidak mengucapkan terima kasih kepadanya, padahal ia telah membuat kecemasanku hilang, ia telah membantuku, ia telah menemukan kunciku dan mengamankannya. Pada saat itu saya benar-benar merasa tertohok, betapa mahalnya lidah ini mengucapkan terima kasih.

Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saya diperkenalkan dengan satotema, sebuah singkatan yang menurut saya adalah konsep penghargaan terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Salam, Tolong, Terima Kasih, dan Maaf. Empat hal yang pernah saya dengar di sebuah radio telah menjadi hal yang langka, dalam ilustrasi yang diceritakan radio tersebut betapa beberapa orang menjadi berbeda suasana hatinya tatkala keempat hal ini dilakukan, empat hal yang membawa perbedaan yang signifikan antara dilakukan dan diabaikan.

Ini hanya sebagai pengingat bagi saya, betapa dulu dengan bersemangatnya saya menerapkan satotema, betapa satotema adalah identitas, sebuah kebanggaan, sebuah penghormatan dan kehormatan. Namun pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, identitas tersebut luntur. Betapa Salam tidak lagi menggema di setiap ruangan, betapa sedikit orang yang mengawali permintaannya dengan Tolong, betapa mudahnya kita melupakan kebaikan orang lain dan mengabaikan Terima Kasih, dan yang paling sulit adalah memaafkan dan meminta maaf.

 

untuk para pengemban satotema.

Sebulan

Diliat dari postingan terakhir… kayaknya dah lebih dari sebulan saya ninggalin nih blog.
well, sebulan ini memang cukup banyak agenda yang menyita perhatian. Mulai dari permintaan Kepala Kantor buat bikin aplikasi layanan informasi mandiri, pendaftaran DIV STAN yang dah dibuka; beberapa masalah dalam pemenuhan persyaratannya; and of course the exam itself, pindahan kantor ke gedung baru, peresmian gedung keuangan negara Banda Aceh, dinas luar.. dinas luar.., hajatan “kejar target” penilaian yang telah dimulai kembali, sempat drop juga, dan lain sebagainya.
Dan ditengah banyaknya agenda, akhirnya diputuskan untuk pindah server tempat blog-q mangkal, tapi bukan IIX, jadi maaf ajah kalo masih leleta lambata buat ngeload

Yah, berhenti sejenak… dan kembali melangkah dengan semangat.

Adem dan Halal

“Dzir, aku masih punya Adem Sari, mau Gak?”
“……”
“Ayolah.., mau ya!?”
“Gak ah…. gak ada label halalnya sih.”

HWUUUAAAA….DZIGH, baru nyadar kalo saya gak memperhatikan keberadaan label halal di produk adem sari yang saya minum.

“Kok ga pernah ngasitau aku sih??”
“……”

Sudah beberapa hari ini saya minum adem sari dan saya minumnya itu di hadapan dia.

Baiklah, it’s pure my fault, gak pernah secara khusus memperhatikan apakah dalam suatu kemasan produk itu berlabel halal atau tidak. Jadi inget kalo You C-1000 juga gak ada label halalnya, jadi inget kalo Hoka Hoka Bento (Hokben) juga masih dipertanyakan status halalnya. Ada yang tahu statusnya sudah berubah atau belum? di Banda Aceh gak ada Hokben soalnya, padahal paling suka sama beef teriyakinya, Gokkana Teppan bermasalah sama status halalnya gak ya?

Apa cuma makanan aja ya? gimana sama jenis produk yang lain? mungkin kalo makanan lebih mudah menentukan parameter halal haramnya, ah gak tau juga. Udah nyoba googling, tapi ternyata cukup sulit (versi saya) menemukan informasi yang up to date mengenai daftar produk apa aja yang tidak/belum berlabel halal. Harusnya sih informasi semacam ini sangat mudah diakses. Ada yang punya list-nya?

Sementara ini mungkin halal guide info bisa jadi rujukan….

Hmmm, mesti lebih meningkatkan lagi self awareness masalah halal, haram, dan syubhat nih…

*ditulis setelah meminum habis adem sari yang masih tersisa…

Seratus Persen

Ramadhan 2006

Pada suatu hari saya mendapatkan sebuah sms, isinya kurang lebih ajakan untuk mengikuti sebuah pertemuan / diskusi yang disebutkan akan membahas tentang lingkungan. Seperti biasa, selalu ada pertanyaan tentang siapa yang mengadakan acara ini. Teman saya ini pun menjawab bla…bla…bla…., hmm, cukup menarik mengingat nama yang disebutkan itu mirip seperti gerakan-gerakan mahasiswa atau masyarakat yang sering kita dengar di televisi, tapi yang ini belum pernah saya dengar. Mungkin karena selama 3 tahun ke belakang berada di Tangerang saya tidak begitu mengetahui perkembangan kota Bandung dan gerakan-gerakan Mahasiswa dan Masyarakatnya. Oke , saya mengiyakan ajakan tersebut.

Rencananya diskusi ini akan diadakan di daerah Dipati Ukur (D.U.), daerah yang notabene adalah kawasan pendidikan dan tempat kos-kos mahasiswa. Karena di daerah tersebut adalah lingkungan mahasiswa Unpad maka saya berasumsi bahwa forum ini adalah prakarsa mahasiswa-mahasiswanya.

Read More »

Diagram Venn

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke inbox telepon seluler lawas milikku. Isinya diawali dengan sapaan ramah dan hangat dilanjutkan dengan beberapa rangkaian kata-kata yang cukup membuat pikiran kosongku di tengah suasana lengang itu cukup berputar. Ya, sampai-sampai aku merubah posisi berbaringku di sofa menjadi duduk agak tegak menatap layar kecil ponsel di tanganku itu. Read More »

Copyright © 2007 lifenotes. All rights reserved.