<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>lifenotes</title>
	<atom:link href="http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.lulus.web.id</link>
	<description>me, myself and sometimes gue, saya dan aku</description>
	<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 10:30:50 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Minyak Tanah</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=31</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=31#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 10:13:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Introspeksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Mama   :               Pa, si Fulan minta seragam tea!
Bapa      :               Ooh heu euh..
Saya       :               Siapa si Fulan, Mah?
Mama   :               Itu anaknya yang jaga makam yang datang tadi malam
Saya       :               Emang dia bilang dia minta seragam
Mama   :               Enggak, cuma kan ada seragam bekas Kiki, Dede juga
                         [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Pa, si Fulan minta seragam tea!</h6>
<h6>Bapa<span>      </span>:<span>               </span>Ooh heu euh..</h6>
<h6>Saya<span>       </span>:<span>               </span>Siapa si Fulan, Mah?</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Itu anaknya yang jaga makam yang datang tadi malam</h6>
<h6>Saya<span>       </span>:<span>               </span>Emang dia bilang dia minta seragam</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Enggak, cuma kan ada seragam bekas Kiki, Dede juga</h6>
<h6><span>                                </span>Kasian anak itu, dibiayai awalnya sama RT – RT di sini,</h6>
<h6>                               biar bisa masuk sekolah saja dulu,</h6>
<h6>                                Sekarang malah dibiarkan, tapi memang sekolahnya gratis,</h6>
<h6>                               anaknya juga punya tekad kuat</h6>
<h6>Bapa<span>      </span>:<span>               </span>Itu yang dekat Rumah Sakit, PLS, Pendidikan Luar Sekolah,</h6>
<h6>                                Ada ujiannya juga, nanti statusnya setara atau disamakan</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Anak-anaknya teh pada jualan minyak</h6>
<h6>Saya<span>       </span>:<span>               </span>Hah, minyak?</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Iya minyak tanah, untuk menambah biaya sekolah,</h6>
<h6>                                Mungkin karena sekolahnya kekurangan biaya,</h6>
<h6><span>                                </span>Seharusnya pemerintah teh memberikan bantuan!</h6>
<h6>Bapa<span>      </span>:<span>               </span>Itu juga mungkin sudah diberikan bantuan oleh pemerintah,</h6>
<h6>                                 makanya gratis juga,</h6>
<h6>                                 Cuma mungkin masih kurang makanya anak-anaknya disuruh</h6>
<h6>                                 berjualan minyak tanah</h6>
<h6>Saya<span>       </span>:<span>               </span>Sama sekolahnya?</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Iya, kalau siang-siang, mungkin pas istirahat sekolah,</h6>
<h6>                                 Kalau lagi ke sini teh pada teriak “minyak, Pak! minyak, Bu!”</h6>
<h6><span>                                </span>Pengen beli, tapi disini beli minyak dah biasa ke warung</h6>
<h6>Saya<span>       </span>:<span>               </span>Pake seragam?</h6>
<h6>Mama<span>   </span>:<span>               </span>Iya,</h6>
<h6>                               Yang dagang juga bareng, laki-laki sama yang perempuan,</h6>
<h6>                                Yang laki-laki yang dorong gerobak,</h6>
<h6>                                yang perempuannya mungkin nyatet-nyatet,</h6>
<h6><span>                                </span>Iya ya, kemana ya Pa, sudah jarang kelihatan lagi mereka teh?</h6>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Aku dah gak bisa lagi nahan mata ini, otakku dah gak kuat lagi menciptakan visualisasi-visualisasi dari obrolan sore itu, terlalu menyakitkan menurutku, di daerah lain mungkin lebih banyak lagi kasus-kasus seperti ini, atau mungkin lebih menyakitkan!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Terlalu banyak variabel ironis dalam kehidupan ini, ada yang dengan mudah meraih segalanya atau bahkan apa yang ia inginkan datang dengan sendirinya tanpa harus diraih, ada yang meraih impiannya dengan sedikit usaha, ada yang benar-benar harus berusaha keras, ada yang hanya senang memiliki impian tanpa berusaha mewujudkannya, dan ada yang harus bertahan keras melewati saat ini dan baru berharap bisa memutuskan apakah ia akan memiliki impian bila berhasil bertahan, hingga… satu tahun ke depan? satu bulan ke depan? Satu minggu ke depan?<span>  </span>hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;"><span>Tiba-tiba saja pikiranku menerawang, mencoba menerka-nerka kejadian di dalam kelas mereka, mungkin pernah saudara-saudara kita ini berbisik lirih kepada teman di sebelahnya… “Satu jam istirahat nanti mudah-mudahan kita bisa menjual beberapa liter minyak tanah ini, dan kita akan tetap bisa sekolah, gratis”</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=31</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jendela Yang Terbuka Setengah</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=27</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=27#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 14:53:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tilas Napak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Remaja tanggung itu masih berdiri di luar, menatap papan tulis hitam di dalam kelas melalui jendela yang terbuka setengah. Di dalam, nampak orang-orang yang lebih tua darinya dalam kesibukan masing-masing, mencatat, mengetik, menumpuk dan memilah-milah berkas, semuanya dilakukan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Hari ini adalah terakhir, setidaknya begitulah bunyi pengumuman yang ia dengar beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Remaja tanggung itu masih berdiri di luar, menatap papan tulis hitam di dalam kelas melalui jendela yang terbuka setengah. Di dalam, nampak orang-orang yang lebih tua darinya dalam kesibukan masing-masing, mencatat, mengetik, menumpuk dan memilah-milah berkas, semuanya dilakukan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Hari ini adalah terakhir, setidaknya begitulah bunyi pengumuman yang ia dengar beberapa hari yang lalu. Tapi bukan itu yang membuatnya sedikit khawatir. Matanya yang tak lepas dari sederet kata yang tertulis paling atas dalam rentetan daftar pada papan tulis, itulah yang membuatnya tengah berpikir.<span>  </span>SMAN 5 = 1. Pikirannya kembali menerawang ucapan bapaknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Kakak sepupumu yang satu di SMAN 10,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Kakak sepupumu yang lain di SMAN 4,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Kakak sepupumu yang laki-laki di SMAN 5”,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Itu dia, hidupnya yang tak lepas dari kekagumannya terhadap salah satu kakak sepupunya membuat dirinya secara tidak sadar, atau mungkin setengah sadar, memiliki keingingan untuk mengikuti jejak kakaknya ini. Di sekolah yang sama, menekuni hobi yang sama, mengikuti organisasi yang sama, ah… betapa menarik hidupnya nanti karena ia akan menjadi sama dengan orang yang ia kagumi, pikirnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tapi ada yang salah, pasti ada sesuatu yang kurang pas, karena ia tak jua melepaskan pandangannya dari puncak daftar tersebut. Ia tidak mengerti, gerangan apa yang membuat dirinya belum yakin, ia ingin bercerita, ia ingin mengadu, tapi hari ini… dia sendirian.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Sudah siang,” ia membatin tatkala melihat jam dinding dalam kelas, dari luar melalui jendela yang terbuka setengah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ia pun berjalan menjauhi kelas itu, meninggalkan pekarangan, keluar dari gerbang, berjalan dengan pelan, cukup pelan, hingga akhirnya berhenti, tepat di pinggir jalan, di perempatan, 50 meter dari gerbang sekolah. Berhenti, bukan karena hendak menyeberang, berhenti, bukan karena ada kendaraan yang lewat, siang itu sepi, sungguh sepi sekali. Berhenti, karena ia teringat sepenggal ingatan, ingatan satu setengah tahun yang lalu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ia berbalik, melangkah, berjalan pelan, setengah berlari, hingga kemudian ia berlari, kencang sekali. Berlari, melewati gerbang, melewati pekarangan, mendekati kelas itu kembali. Berdiri di depan jendela yang terbuka setengah, berusaha menarik perhatian salah seorang pria di dalam kelas, yang lebih tua darinya. Upayanya berhasil, pria itu mendekatinya, dari dalam kelas, melalui jendela yang terbuka setengah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Pak…, huh..huh..,” bicaranya tersengal-sengal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Pak, masih bisa dirubah kan?” Nadanya penuh harap, tetap tersengal-sengal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pria itu seolah mengerti maksud si remaja tanggung, menoleh ke belakang dan bertanya kepada rekannya. Rekannya nampak sibuk selama beberapa saat hingga akhirnya menggeleng kepada pria itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Berkasnya belum dikirim, jadi masih bisa dirubah..”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Pak, saya mau ke SMAN 3,”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pria itu terdiam sesaat, kemudian tersenyum. Ia berjalan, menjauhi jendela yang menghalanginya dan si pemuda tanggung, berjalan, mendekati papan tulis hitam yang penuh dengan rentetan daftar, mengambil buntalan kain yang biasa digunakan untuk menghapus tulisan kapur dan ia hapus sebaris paling atas dari rentetan daftar di papan, kemudian ia menuliskan kembali sesuatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">SMAN 3 = 1</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"> </p>
<h3>Satu Setengah Tahun yang Lalu</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Hari ini guru Bahasa Inggris kami gak masuk, yang tengah berdiri di depan adalah guru penganti sementara. Aku gak begitu kenal dengannya, ia mengajar di kelas lain, tapi sesaat saja ia mengajar aku langsung mendapat kesan kalau ia orangnya baik, tutur katanya halus, suaranya lemah lembut, gaya berjalannya anggun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Entah darimana awalnya, tiba-tiba ia membahas tentang melanjutkan pendidikan, ia berkeliling kelas menanyakan minat murid-muridnya, tidak semua yang ia tanya, hanya beberapa saja, hingga akhirnya ia berjalan menuju ke arahku.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Aku mendapatkan pertanyaan yang sama, kemana minatku untuk melanjutkan pendidikan, namun ada perasaan aneh ketika ia menanyakan itu, seolah-olah ia mengenalku dengan baik, perasaanku menjadi lebih aneh lagi, ketika dalam pikiranku aku tengah diam kebingungan menjawab karena terus terang aku memang belum pernah memikirkan akan melanjutkan kemana setelah selesai sekolah di sini, tiba-tiba ia menyahut</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">“Ah, Lulus mah mau ke SMAN 3 yah?” </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=27</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan bungkam&#8230; bicaralah!</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=18</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=18#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2008 07:12:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Introspeksi]]></category>

		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Dalam salah satu sesi kuliah SIA (Sistem Informasi Akuntansi), dosenku menjabarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, beliau bilang kalau materi ini nampaknya belum diajarkan di universitas lain karena memang materi ini baru (dan memang kalo misalnya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur dan kawan-kawannya kayaknya nggak akan diajarin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dalam salah satu sesi kuliah SIA (Sistem Informasi Akuntansi), dosenku menjabarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, beliau bilang kalau materi ini nampaknya belum diajarkan di universitas lain karena memang materi ini baru (dan memang kalo misalnya kuliah di jurusan Teknik Arsitektur dan kawan-kawannya kayaknya nggak akan diajarin deh, Pak!!), bla.. bla.. bla… singkat cerita sampailah materinya kepada Unsur Sistem Pengendalian Intern (SPI), beliau bilang Unsur SPI dalam Peraturan Pemerintah (PP) ini mirip dengan komponen SPI yang dijabarkan COSO (<em>The Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission</em>), bahkan pengertian pengendalian intern di PP ini juga mirip dengan defnisi Pengendalian Intern versi COSO. Jadi saudara-saudaraku yang berbahagia, COSO ini semacam organisasi yang memberikan panduan untuk para eksekutif perusahaan dan juga organisasi pemerintah agar dapat menjalankan business process atau operasional organisasinya menjadi lebih efektif dan efisien, dan di beberapa buku teks yang membahas pengendalian intern, COSO sering dijadikan referensi utama.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">So whats the big deal, bro??</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dosenku bilang sebenarnya apa yang dijelaskan atau dirumuskan oleh COSO ini adalah sesuatu yang lumrah, yang lazim, biasa saja dan memang seharusnya seperti itu dimana-mana. Lalu bagaimana hal ini bisa menjadi sebuah standard? Menjadi panduan yang digunakan dimana-mana? Diajarkan ke jutaan mahasiswa?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dosenku kemudian bilang kalau orang Amerika itu semenjak TK diajarkan untuk bercerita, contoh: mereka dapet PR untuk memperhatikan binatang peliharaan mereka di rumah, anak yang gak punya binatang peliharaan disuruh mencari binatang yang ada di sekitar rumah, mereka harus menceritakan tentang apa yang mereka lihat itu di kelas. Ada yang inget film ‘<em>Kindergarten Cop</em>’? Arnold Schwazenegger menyuruh murid-murid tknya untuk bercerita tentang pekerjaan ayahnya, bisa jadi ilustrasinya adalah seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kembali ke cerita binatang, nah semua murid bercerita dan gurunya selalu memberikan appresiasi positif kepada murid-muridnya, “<em>Good job, Son</em>!!”, “<em>Excellent, Catherine</em>!!”, “<em>Nice Story, Tyler</em>!!” dan sebagainya. <span> </span>Cerita yang dianggap paling bagus akan diberi hadiah oleh gurunya seperti puzzle, buku teka-teki (ada yang nonton film ‘<em>Mercury Rising</em>’?), atau dikasih bintang – star of the day (tonton deh film ‘<em>The School of Rock</em>’!).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Intinya adalah, mereka (Americans) terbiasa untuk mengekspresikan sesuatu, terbiasa untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di benak pemikiran-pemikiran, ide-ide kecil, hal-hal yang dilihat di jalanan, di kantor, di rumah, bersama nenek-kakek, bersama pasangan (yuhu, <em>Why Men</em><span><em>  </em></span><em>Cant Listen and Women Cant Read Maps</em>), menceritakannya di kelas, mendiskusikannya bersama teman, memperdebatkannya bersama kolega, menuliskannya, mengekspose, mendapat <em>pulitzer</em>, <em>noble awards</em>, dan lain sebagainya. Sedangkan kita, beberapa di antara kita, saya, terbiasa memikirkan sesuatu namun tak urung jua mengungkapkannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Jadi kalau di dalam satu kelas ada mahasiswa Amerika, Eropa dan Asia (termasuk Indonesia), ketika dosen bertanya tentang sesuatu, semua mahasiswa mengerenyitkan dahi, berpikir, mahasiswa Indonesia diam, mahasiswa Amerika mengacungkan tangan dan menjawab, mahasiswa Indonesia bilang ‘lha itu mah gue juga tahu tuh!!’.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Di Amerika dibiasakan bagaimana siswa mampu mengamati sesuatu, dan bagaimana siswa mampu mengilustrasikan kembali apa yang telah dia amati, baik dengan cara mempresentasikannya, menuliskannya atau dengan seminar dan sebagainya. Bagaimana di Indonesia? Kayaknya kita jarang deh disuruh mengamati sesuatu, bercerita, kemudian kalau ceritanya paling bagus dapat hadiah dari bapak/ ibu guru. Ingat! tidak ada cerita yang jelek, semua cerita bagus, hanya saja yang dianggap ‘paling bagus’ yang dapat hadiah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Apa yang dikisahkan oleh dosen ini benar-benar menohok diriku, <em>yeah I’ve got such feeling</em>, seringkali meremehkan fase dimana sesuatu ditanyakan, tahu jawabannya, takut jawabannya salah, orang lain mengacungkan tangan, menjawab dengan jawaban yang berbeda dari kita, jawabannya ternyata betul, kita bilang dalam hati ‘bah, untung tak aku keluarkan jawabanku satu itu’. Lain kesempatan dan pertanyaan, orang lain menjawab dengan jawaban yang sama dengan kita, jawabannya ternyata betul, kita bilang dalam hati ‘huuuu, itu mah jawaban gue juga tuh, gue juga bisa’. Jangan salah Bung, aku pernah kalah nilai gara-gara kawanku satu itu mendadak jadi sering mengacungkan tangan bertanya atau menjawab, salah ataupun betul.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Banyak hal dan kejadian seperti itu, termasuk menulis di sini, dari dulu banyak yang mau kuungkapkan di sini, eksekusi hukuman cambuk di Blang Pidie, jalan-jalanku ke Nol Kilometer Indonesia, kesempatan dapat dinas ke Mataram, termasuk respon orang-orang di Indonesia tatkala di Amerika tengah terjadi persaingan antara dua orang dalam mendapatkan kursi presiden, kecenderungan beberapa orang di indonesia memihak pada salah seorang kandidat dengan harapan membawa perubahan kepada Indonesia, kawan, aku beritahu ‘whoever wins, we lose’ (pasti engkau tahu kalo ini kuambil dari taglinenya film ‘<em>Alien Vs Predator</em>’).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tapi entah mengapa setiap kali ide-ide, cerita-cerita itu muncul, sebelum akhirnya dikemukakan, ditengah –tengah lenyap begitu saja, sekarang aku sedikit banyak tahu jawabannya, aku tak biasa. <em>Good thought then</em>, saya harus membiasakan diri mengungkapkan sesuatu, mengilustrasikan sesuatu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pernahkah<span>  </span>membaca sebuah buku teks, membaca pendefinisian, penjabaran-penjabaran tentang sesuatu atau perumusan tentang sesuatu yang digunakan dimana-mana, bukunya best seller, materinya paling dicari, namun kesan yang muncul di benak setelah membacanya adalah ‘hal-hal tersebut koq biasa saja?’ Yeah, aku pernah, sering. Termasuk ketika pertama kali membaca definisi pengendalian intern versi COSO, jauh sebelum sesi kuliah ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>‘Sebuah proses, dipengaruhi oleh dewan direksi, manajemen dan personil lain, didesain untuk menyediakan kepastian terhadap pencapaian tujuan dalam efisiensi dan efektivitas dari operasi, kehandalan laporan keuangan dan kepatuhan tehadap penerapan hukum dan peraturan’</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>Anything specials</em>?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ps: check this out… <a href="http://araian.wordpress.com/2008/12/15/speak-it-up-girl-speak-up-your-beautiful-mind/">versi lain dari sesi kuliah ini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=18</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dont Do That in My Computer</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=17</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=17#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 20:36:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Introspeksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini sy sengaja bangun telat dan gak langsung ke kantor, sy ingin menikmati suasana weekend pagi di rumah dulu sebelum ke kantor. Bangun tidur langsung nyetel tipi, cari2 channel yg menarik, tapi sayang pagi ini semua channel yang tertangkap antenna cap tiga jari di Banda Aceh (baca: sedikit) kalo gak infotainment ya reality show [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pagi ini sy sengaja bangun telat dan gak langsung ke kantor, sy ingin menikmati suasana weekend pagi di rumah dulu sebelum ke kantor. Bangun tidur langsung nyetel tipi, cari2 channel yg menarik, tapi sayang pagi ini semua channel yang tertangkap antenna cap tiga jari di Banda Aceh (baca: sedikit) kalo gak infotainment ya reality show yang &#8220;enggak banget deh&#8221;, yah terpaksa menghela napas dan memilih salah satu acara inpotainmen yang tersaji.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil bikin mie goreng, akhir-akhir ini lg pengen balik ke kebiasaan dulu.. pemangsa mie goreng tulen, saya coba dengerin ada berita apa di inpotainmen. Guess what&#8230; Mak Erot meninggal!!</p>
<p style="text-align: justify;">Genggaman itu mengendur, asanya sudah tidak memperdulikan lagi udara, matanya tajam menukik, tumpahan terigu olahan itu sudah ia tidak anggap lagi, inilah masa ia ketika hanya telinga yang bicara&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">hoexx.. aneh kata2 di atas&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">wow, mak erot meninggal, kata inpotainmennya sih kabar mak erot meninggal ini baru disampaikan kepada pihak kelurahan setelah 21 hari, hmmm&#8230; sebuah misteri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidaaak&#8230; Mak&#8230; saya belum mampir Maak&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">eits&#8230; jangan berprasangka baik dulu, saya mampir bukan mau mencoba kedigdayaan mak erot menciptakan inflasi pada kepercayaan diri laki-laki (some of), tapi dalam rangka penilitian, observasi dan wawancara buat thesis saya nanti yang berjudul &#8220;Peranan Bambu Hijau yang Ramah Lingkungan dalam Memberikan Cita Rasa terhadap Ketan Olahan kaitannya dengan Sugesti Laki-laki terhadap Pasangannya bahwa Pasangannya menyukai ukuran Ketan Yang Sebesar Bambu&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">wah, untuk yang sudah mencoba jasa mak erot nampaknya harus sedikit was-was mengkhawatirkan layanan purna jual, ketersediaan suku cadang dan garansi ukuran kembali..</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanapun jadinya&#8230; Innalillahi Wa Inna Ilahi Rojiun</p>
<p style="text-align: justify;">yang pasti sudah cukup bagi saya menyaksikan inpotainmen pagi itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saatnya berangkat ke kantor, after i took a bath of course.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di kantor saya terkejut (gak sampai lompat kebelakang dengan mulut menganga), komputer yang biasa saya pake menyala&#8230; tp bukan itu yang bikin saya sedikit terkejut, di meja komputer ada asbak ukuran xl dengan isi full puntung rokok, gila ni orang, candu apa napsu???</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan saya gak enak&#8230; akhirnya sy coba liat monitor yang menyala, nothing, perasaan saya masih gak enak, saya buka firefox dan coba masuk yahoomail&#8230; wait a second&#8230; biasanya ada cache / sugesstion yang muncul di address bar kalo kita mulai mengetik, ini malah kosong, coba diklik dropdownnya juga gak keluar apa-apa, hmm.. somebody has tried to clear the cache. I dont like this, saya ngerasa cache ini berguna banget terutama kalo mo mengunjungi suatu halaman apalagi kalo sering dan berulang-ulang kayak saya, cuma ada satu alasan kenapa orang meng-clear kan cache&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Ada satu yang saya kira biasanya orang lupa kalo berniat seperti itu, membersihkan history. Dugaan saya tepat, pas saya buka history ternyata&#8230;. $&amp;*(@*(^)^&amp;#@!!!! Tebakan saya Betul&#8230; orang ini habis buka situs-situs porno, banyak, ARRGGH!!</p>
<p style="text-align: justify;">hmm.. saya coba check di recent document, gak ada file bebau ponro yang dibuka, well berarti dy gak download n play the content, atau bisa jadi hanya sedikit yang didownload, dimainkan dan dia langsung menghapus secara manual recent documentnya satu-satu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa media player saya coba nyalaain bwt ngeliat history apa ada yang dimainkan oleh si pelaku, hyaaax.. ternyata di winamp ada satu file yang nongkrong dan guess what.. dari judulnya aja keliatan kalo itu xxx-file, saya coba liat file infonya, hmmm dimainkan langsung dari flashdisk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalo urusan yang terakhir ini saya tahu siapa pelakunya karena saya tahu siapa pemilik filenya, hanya saja saya gak nyangka &#8220;berani-beraninya&#8221; dia play di komputer yang biasa sy pegang. Tapi yang saya tahu adalah dy gak merokok&#8230;. ARGGGH&#8230; ada dua pelaku ternyata!!!</p>
<p style="text-align: justify;">PLISS DONG, both of you telah mencemarkan nama baik komputer yang sy pegang, terlebih ngilangin cache yang setia membantu saya, kalo kalian mo bagi2 file xxx ke sy, its ok, sy pasti terima dengan senang hati tapi JANGAN buka situs2 ponro atau file xxx nya di komputer ini!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Wait a second, saya mulai memiliki hipotesa bahwa si pelaku mengetahui juga kabar tentang mak erot, ia merasa frustasi karena kehilangan kesempatan mewujudkan impiannya mendapatkan &#8220;Bamboo&#8221;, saking frustasinya ia menghisap rokok secara berlebihan dan membuka-buka situs ponro demi &#8220;membesarkan&#8221; hatinya, sama saja dengan kawannya yang satu lagi&#8230;.</p>
<h1>TAPI TETEP&#8230; DONT DO THAT IN MY COMPUTER</h1>
<p style="text-align: justify;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=17</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya Datang Juga</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=15</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=15#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 May 2008 11:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Announcements]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[here it comes&#8230; Penilaian Barang Milik Negara yang tengah gencar dilaksanakan di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara akhirnya menunjukkan taringnya, empat tim penilaian Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Banda Aceh telah resmi mendapatkan surat tugas untuk melaksanakan penilaian di beberapa Kota/Kabupaten di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, dalam kloter pertama telah berangkat dua tim penilaian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">here it comes&#8230; Penilaian Barang Milik Negara yang tengah gencar dilaksanakan di Lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara akhirnya menunjukkan taringnya, empat tim penilaian Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Banda Aceh telah resmi mendapatkan surat tugas untuk melaksanakan penilaian di beberapa Kota/Kabupaten di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, dalam kloter pertama telah berangkat dua tim penilaian ke Aceh Selatan dan Aceh Barat, kesempatan kedua telah berangkat kembali satu tim menuju ke Aceh Tenggara, dan satu tim terakhir akan berangkat berselang empat hari dari sebelumnya menyusul ke wilayah Aceh Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang terjadi ketika tim terakhir hendak berangkat, mulai dari adanya sosialisasi Sistem Informasi Eksekutif bagian Kepegawaian yang baru sehingga menunda jadwal keberangkatan tim keempat ini, kemudian salah seorang anggota tim yang terkena typus sehingga membuat tim sempat mengadakan beberapa pertimbangan untuk tidak mengijinkan anggota tersebut ikut tugas karena dikhawatirkan membahayakan kondisi kesehatannya, dan sempat ada permintaan bantuan penilaian dari KPKNL Bandung namun tidak dapat dilaksanakan oleh tim penilaian KPKNL Banda Aceh karena anggota tim keempat ini sudah menyebar untuk kembali bertemu di Aceh Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu yang masih tersisa sebelum berangkat digunakan oleh masing-masing anggota untuk mempersiapkan hal-hal yang diperkirakan akan sangat dibutuhkan di lapangan, menyelesaikan berbagai hal agar tidak menjadi beban saat melaksanakan tugas di luar nanti, <em>and you know what?</em> banyak sekali ternyata yang harus diselesaikan menjelang keberangkatan tim ini (<em>at least for one of their member</em>)&#8230;</p>
<ul>
<li>menyiapkan berbagai persyaratan untuk mendapatkan Kartu Pegawai Negeri Sipil bagi empat pegawai yang baru saja diangkat menjadi PNS dan ternyata salah satu dari empat orang ini menyimpan persyaratannya di rumah padahal ia sedang di Aceh Selatan, jadi yang baru dipersiapkan hanya tiga orang</li>
<li>menyiapkan salinan surat tugas sebagai bukti bahwa ia tidak bisa mengikuti kuliah pada rentang waktu tercantum, untuk diserahkan kepada dosen-dosennya bersama dengan surat tugas temannya yang lain</li>
<li>menyiapkan cetakan rekapitulasi absensi elektronik dengan sistem fingerprint</li>
<li>mengumpulkan dan menyalin file-file milik salah seorang Eselon IVa di kantor yang mendapatkan mutasi ke KPKNL Surakarta dari beberapa komputer ke dalam harddisk eksternal</li>
<li>mencari barang untuk dikirim kepada seorang teman untuk diberikan sebagai pengganti barang (yang sama) yang katanya terjatuh</li>
<li>dan ada lagi seorang temannya yang meminta bantuan</li>
<li>menyalin file-file yang dibutuhkan dalam rangka penilaian ke dalam harddisk eksternal (untuk dibawa ke lapangan tentunya)</li>
<li>mencuci baju!!!!!! (kayaknya gak usah dijelaskan tujuannya untuk apa)</li>
<li>menulis di blog ini untuk berpamitan&#8230;.</li>
</ul>
<p>so, selama 23 hari ke depan nampaknya blog ini akan kembali ditinggalkan oleh pemiliknya, mohon do&#8217;anya semoga lancar dalam perjalanan dan ketika melaksanakan tugas. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=15</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satotema</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=14</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=14#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 08:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Introspeksi]]></category>

		<category><![CDATA[Tilas Napak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Pernah suatu pagi saya kehilangan kunci pintu kamar kost yang saya pegang, saya sudah mencoba mencari di beberapa tempat tapi tidak membuahkan hasil, dalam kecemasan saya berharap tebakan terakhir ini betul, di kantor. Ya, malam sebelumnya memang saya menginap di kantor, beruntung karena dua teman saya tidur di kost, pagi itu saya masih bisa masuk. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pernah suatu pagi saya kehilangan kunci pintu kamar kost yang saya pegang, saya sudah mencoba mencari di beberapa tempat tapi tidak membuahkan hasil, dalam kecemasan saya berharap tebakan terakhir ini betul, di kantor. Ya, malam sebelumnya memang saya menginap di kantor, beruntung karena dua teman saya tidur di kost, pagi itu saya masih bisa masuk. Jadi dengan meninggalkan pintu kamar tidak terkunci saya berangkat ngantor. Sesampainya di kantor sudah bisa ditebak apa yang saya lakukan pertama kali, mencari kunci. Saya mencoba mengingat tempat-tempat yang saya lewati dan mencarinya di situ, namun nihil. Akhirnya saya mencoba bertanya kepada seorang pegawai yang memang selalu datang awal untuk membersihkan beberapa ruangan di kantor, dia merogoh saku kemejanya dan <em>wuohohohooohoho</em>… ternyata dia menemukan kunci itu dan sudah mengamankannya, segera aku ambil kunci itu dari tangannya dan pergi. Tiba-tiba saja ia mengucapkan “Terima kasih…”, spontan aku berhenti dan menengoknya, dengan sedikit canggung aku mengulang perkataannya…”Te..Terima Kasih….”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>Aku tidak mengucapkan terima kasih kepadanya, padahal ia telah membuat kecemasanku hilang, ia telah membantuku, ia telah menemukan kunciku dan mengamankannya</em>. Pada saat itu saya benar-benar merasa tertohok, betapa mahalnya lidah ini mengucapkan terima kasih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, saya diperkenalkan dengan <em>satotema</em>, sebuah singkatan yang menurut saya adalah konsep penghargaan terhadap diri sendiri dan juga orang lain. Salam, Tolong, Terima Kasih, dan Maaf. Empat hal yang pernah saya dengar di sebuah radio telah menjadi hal yang langka, dalam ilustrasi yang diceritakan radio tersebut betapa beberapa orang menjadi berbeda suasana hatinya tatkala keempat hal ini dilakukan, empat hal yang membawa perbedaan yang signifikan antara dilakukan dan diabaikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ini hanya sebagai pengingat bagi saya, betapa dulu dengan bersemangatnya saya menerapkan satotema, betapa satotema adalah identitas, sebuah kebanggaan, sebuah penghormatan dan kehormatan. Namun pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, identitas tersebut luntur. Betapa Salam tidak lagi menggema di setiap ruangan, betapa sedikit orang yang mengawali permintaannya dengan Tolong, betapa mudahnya kita melupakan kebaikan orang lain dan mengabaikan Terima Kasih, dan yang paling sulit adalah memaafkan dan meminta maaf.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"> </p>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">untuk para pengemban satotema.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=14</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sebulan</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=12</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 07:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wisudantara</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Announcements]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Diliat dari postingan terakhir&#8230; kayaknya dah lebih dari sebulan saya ninggalin nih blog.
well, sebulan ini memang cukup banyak agenda yang menyita perhatian. Mulai dari permintaan Kepala Kantor buat bikin aplikasi layanan informasi mandiri, pendaftaran DIV STAN yang dah dibuka; beberapa masalah dalam pemenuhan persyaratannya; and of course the exam itself, pindahan kantor ke gedung baru, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diliat dari postingan terakhir&#8230; kayaknya dah lebih dari sebulan saya ninggalin nih blog.<br />
<em>well</em>, sebulan ini memang cukup banyak agenda yang menyita perhatian. Mulai dari permintaan Kepala Kantor buat bikin aplikasi layanan informasi mandiri, pendaftaran DIV STAN yang dah dibuka; beberapa masalah dalam pemenuhan persyaratannya; <em>and of course the exam itself</em>, pindahan kantor ke gedung baru, <a href="http://e-aceh-nias.org/news/news_photo.aspx?id=287">peresmian gedung keuangan negara Banda Aceh</a>, dinas luar.. dinas luar.., <a href="http://www.djkn.depkeu.go.id/index.php/20080208463/Berita-DJKN/Penilaian-Barang-Milik-Negara.html">hajatan &#8220;kejar target&#8221; penilaian yang telah dimulai kembali</a>, sempat drop juga, dan lain sebagainya.<br />
Dan ditengah banyaknya agenda, akhirnya diputuskan untuk pindah server tempat blog-q mangkal, tapi bukan IIX, jadi maaf ajah kalo masih leleta lambata buat ngeload</p>
<p>Yah, berhenti sejenak&#8230; dan kembali melangkah dengan semangat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adem dan Halal</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=10</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=10#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 09:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>L</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Introspeksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dzir, aku masih punya Adem Sari, mau Gak?&#8221;
&#8220;&#8230;&#8230;&#8221;
&#8220;Ayolah.., mau ya!?&#8221;
&#8220;Gak ah&#8230;. gak ada label halalnya sih.&#8221;
HWUUUAAAA&#8230;.DZIGH, baru nyadar kalo saya gak memperhatikan keberadaan label halal di produk adem sari yang saya minum.
&#8220;Kok ga pernah ngasitau aku sih??&#8221;
&#8220;&#8230;&#8230;&#8221;
Sudah beberapa hari ini saya minum adem sari dan saya minumnya itu di hadapan dia.
Baiklah, it&#8217;s pure my fault, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Dzir, aku masih punya Adem Sari, mau Gak?&#8221;<br />
&#8220;&#8230;&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Ayolah.., mau ya!?&#8221;<br />
&#8220;Gak ah&#8230;. gak ada label halalnya sih.&#8221;</p></blockquote>
<p align="justify"><span style="color: #000000;"><em>HWUUUAAAA&#8230;.DZIGH</em>, baru nyadar kalo saya gak memperhatikan keberadaan label halal di produk adem sari yang saya minum.</span></p>
<blockquote><p>&#8220;Kok ga pernah ngasitau aku sih??&#8221;<br />
&#8220;&#8230;&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Sudah beberapa hari ini saya minum adem sari dan saya minumnya itu di hadapan dia.</p>
<p align="justify">Baiklah, <em>it&#8217;s pure my fault</em>, gak pernah secara khusus memperhatikan apakah dalam suatu kemasan produk itu berlabel halal atau tidak. Jadi inget kalo You C-1000 juga gak ada label halalnya, jadi inget kalo Hoka Hoka Bento (Hokben) juga masih dipertanyakan status halalnya. Ada yang tahu statusnya sudah berubah atau belum? di Banda Aceh gak ada Hokben soalnya, padahal paling suka sama <em>beef teriyaki</em>nya,  Gokkana Teppan bermasalah sama status halalnya gak ya?</p>
<p align="justify">Apa cuma makanan aja ya? gimana sama jenis produk yang lain? mungkin kalo makanan lebih mudah menentukan parameter halal haramnya, ah gak tau juga. Udah nyoba <em>googling</em>, tapi ternyata cukup sulit (versi saya) menemukan informasi yang <em>up to date</em> mengenai daftar produk apa aja yang tidak/belum berlabel halal. Harusnya sih informasi semacam ini sangat mudah diakses. Ada yang punya list-nya?</p>
<p align="justify">Sementara ini mungkin <a href="http://www.halalguide.info">halal guide info</a> bisa jadi rujukan&#8230;.</p>
<p>Hmmm, mesti lebih meningkatkan lagi <em>self awareness</em> masalah halal, haram, dan syubhat nih&#8230;</p>
<p align="justify"><em>*ditulis setelah meminum habis adem sari yang masih tersisa&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=10</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seratus Persen</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=9</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=9#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Mar 2008 15:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>L</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tilas Napak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan 2006
Pada suatu hari saya mendapatkan sebuah sms, isinya kurang lebih ajakan untuk mengikuti sebuah pertemuan / diskusi yang disebutkan akan membahas tentang lingkungan. Seperti biasa, selalu ada pertanyaan tentang siapa yang mengadakan acara ini. Teman saya ini pun menjawab bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230;., hmm, cukup menarik mengingat nama yang disebutkan itu mirip seperti gerakan-gerakan mahasiswa atau masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="right"><em>Ramadhan 2006</em></p>
<p align="justify">Pada suatu hari saya mendapatkan sebuah sms, isinya kurang lebih ajakan untuk mengikuti sebuah pertemuan / diskusi yang disebutkan akan membahas tentang lingkungan. Seperti biasa, selalu ada pertanyaan tentang siapa yang mengadakan acara ini. Teman saya ini pun menjawab bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230;., hmm, cukup menarik mengingat nama yang disebutkan itu mirip seperti gerakan-gerakan mahasiswa atau masyarakat yang sering kita dengar di televisi, tapi yang ini belum pernah saya dengar. Mungkin karena selama 3 tahun ke belakang berada di Tangerang saya tidak begitu mengetahui perkembangan kota Bandung dan gerakan-gerakan  Mahasiswa dan Masyarakatnya. Oke , saya mengiyakan ajakan tersebut.</p>
<p align="justify">Rencananya diskusi ini akan diadakan di daerah Dipati Ukur (D.U.), daerah yang notabene adalah kawasan pendidikan dan tempat kos-kos mahasiswa. Karena di daerah tersebut adalah lingkungan mahasiswa <a href="http://unpad.ac.id">Unpad</a> maka saya berasumsi bahwa forum ini adalah prakarsa mahasiswa-mahasiswanya.</p>
<p align="justify"><span id="more-9"></span></p>
<p align="justify">Mengenai topiknya, yakni lingkungan, saya sendiri cukup terkejut&#8230; <em>kenapa saya yang diajak?</em> apakah ada hubungannya dengan pernahnya saya menjadi pengurus di Divisi Lingkungan di <a href="http://www.stapala.com">STAPALA</a>, tapi hal ini belum pernah saya publikasikan kepada siapapun karena saya menganggap hal ini tidak begitu penting untuk disebarluaskan, dan telah terjadi pengecualian sejak tulisan ini saya buat&#8230; hahaha. Kemudian saya mulai menduga-duga bahwa yang dimaksud adalah lingkungan sosial, <em>hah.. tau apa saya tentang yang satu ini? selain hanya mengkritik tanpa melakukan sesuatu yang real!</em> Yah, apapun alasannya waktu itu, saya cukup <em>excited</em> untuk berencana hadir mengikuti diskusinya. Setidaknya beberapa pengalaman bertemu dengan organisasi yang <em>concern</em> dengan lingkungan membuat saya <em>pede </em>seandainya tiba-tiba saya diminta menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, wuahahahaha.. ngarep!!</p>
<p align="justify">Pada jam yang sudah ditentukan, saya bertemu dengan teman saya ini di depan Kampus Unpad D.U. , lalu kami bersama-sama menuju lokasi. Hmmm, ternyata bukan di kampus Unpad. Lokasinya berada di kawasan pemukiman di belakang monumen patung Juanda, lebih dikenal dengan sebutan Dago Pakar. Ternyata memang diskusinya diadakan di salah satu rumah, lebih tepatnya kamar kos, di wilayah tersebut. Baiklah, tidak menjadi masalah meskipun hanya menjadi narasumber di forum diskusi yang cukup kecil, hwahahahaha.. teteup ngarep!!</p>
<p align="justify">Kami pun masuk, cukup mengherankan, tidak ada tanda-tanda kehadiran peserta-peserta yang dalam bayangan saya haus akan informasi tentang lingkungan entah itu lingkungan dalam artian alam maupun sosial. Hanya ada kami berdua disambut oleh seorang yang berumur masih muda di mata saya (tentu saja saya lebih muda lagi) dan nampaknya teman saya ini lumayan kenal (atau mungkin sekedar tahu). Terpaksa saya menguburkan dalam-dalam keyakinan saya tentang menjadi narasumber ini, <em>euleuh-euleuh&#8230;</em></p>
<p align="justify">Kamar kos ini berukuran ± 3&#215;3 meter, lantainya beralaskan karpet yang saya tidak tahu namanya tapi sering kita jumpai di musholla-musholla, terdapat beberapa lemari kecil dan terakhir adalah sebuah <em>whiteboard</em> ukuran sedang, bukan seperti yang digunakan anak-anak untuk belajar menggambar atau belajar menulis &#8220;ini bapak Budi, ini ibu Budi, ini anak Budi&#8221;. Alih-alih sebagai kamar kos, kamar ini lebih terlihat seperti ruangan rapat atau pertemuan dengan kapasitas ± 10 orang yang duduk dengan rapi, nyaman dan manis, atau ± 15-20 orang dengan punggung menahan tekanan dari belakang dan lutut dengan mesranya mengecup lutut orang di sebelah kiri dan kanan.</p>
<p align="justify">Pembicaraan dimulai dengan perkenalan, pertanyaan-pertanyaan tentang STAN (tentunya ditujukan kepada saya), paradigma-paradigma yang ada tentang STAN, pandangan masyarakat awam tentang STAN, <em>mindset </em>yang dikantongi setelah memasuki dunia kerja.. hingga kondisi lingkungan sosial masayarakat sekarang ini (oh, baiklah, ternyata tentang lingkungan sosial), <em>framework</em> masyarakat sekarang, keprihatinan dan bla..bla..bla.. hingga beberapa penyelesaian yang bisa diambil untuk mengatasi kondisi sosial masyarakat sekarang ini. <em>As usual</em>, masalah kripik mengkritik saya boleh dibilang jago dan tetap tanpa pernah melakukan sesuatu yang <em>real</em>. <em>Heyyy, wait a second, its just my feeling </em>atau memang hanya saya yang diberondong pertanyaan oleh tuan rumah sedangkan temanku duduk dengan manis di belakang sebelah kananku dan memperhatikan dengan terkagum-kagum atas beberapa penjelasan saya (jangan terlalu percaya&#8230; tapi nampaknya betul). Yap, hanya saya yang diserbu.</p>
<p align="justify">Dari perkenalan awal tadi saya tahu bahwa beliau (tuan rumah) bukan mahasiswa Unpad dan bukan juga alumni Unpad, status beliau adalah bekerja. Baiklah, jadi diskusi ini tidak diprakarsai oleh mahasiswa Unpad ataupun yang berhubungan dengan Unpad.</p>
<p align="justify">Setelah nampaknya sangat puas dengan jawaban-jawaban saya, beliau mengambil spidol dan menggambar sesuatu di <em>whiteboard</em> yang saya yakini adalah sebuah <em>progress bar</em>. Kemudian beliau mulai menjelaskan tentang kondisi sekitar, tentang kerusakan bumi (nah.. ini dia &#8220;lingkungan&#8221; yang saya tunggu-tunggu), keprihatinan terhadap pola pikir masyarakat sekarang ini, kerusakan moral, dan lain sebagainya yang merujuk pada kata sifat &#8220;pokoknya jelek, rusak, parah deh&#8221;.</p>
<p align="justify">Lalu beliau  menggambar kembali, yang di mata saya seperti pelajaran relasi: ada domain, kodomain, dan kokodomain (???). Penjelasan beliau selanjutnya adalah: Kerusakan-kerusakan, ketidakseimbangan, dan hal-hal buruk yang terjadi adalah karena sudah tidak ada lagi ketaatan manusia terhadap Al-Qur&#8217;an, manusia sudah tidak lagi menjalankan apa yang diperintahkan Al-Qur&#8217;an secara <em>kaffah</em>. Gambar yang saya deskripsikan sebagai domain ternyata dimaksudkan sebagai Manusia, kemudian kodomainnya adalah Al -Qur&#8217;an, dan domain berikutnya adalah Bumi, ada tanda panah dari Manusia mengarah kepada Al-Qur&#8217;an, dan satu lagi tanda panah dari Bumi mengarah kepada Al-Qu&#8217;ran yang menandakan semuanya merujuk ke Al-Qur&#8217;an.</p>
<p align="justify"><em>STOP!!! Ke Heula, naha ieu teh jadi masalah agama</em>???  (berhenti!!! tunggu dulu, mengapa daun teh ini jadi dipermasalahkan oleh agama???)</p>
<p align="justify">Tentu saja saya tidak meneriakan secara fasih kata-kata di atas, hanya dalam hati. Saya menjadi heran dengan arah pembicaraan beliau, bukannya saya tidak ingin berdiskusi masalah agama, tapi bukankah saya mau diajak ngobrol mengenai lingkungan? atau persepsi dan <em>mindset </em>saya tentang lingkungan yang terlalu naif dan sempit? Baiklah, saya mencoba menerima kondisi kedua, dengan harapan ada penjelasan di akhir.</p>
<p align="justify">Selanjutnya beliau menggambar kembali, kali ini saya yakin bentuknya seperti pohon bilangan, dengan objek yang sama. Al-Quran berada di atas, kemudian Manusia berada di bawah samping kiri dan Bumi berada di samping kanan, ada garis yang menghubungkan keduanya dengan Al-Qur&#8217;an. Penjelasan beliau adalah, manusia dan bumi adalah unsur-unsur dari Al-Qur&#8217;an yang nanti akan dibahas lebih lanjut di pertemuan-pertemuan berikutnya.</p>
<p align="justify"><em>Hah, pertemuan-pertemuan berikutnya?</em></p>
<p align="justify">Tuan rumah ini kemudian beralih ke gambar <em>progress bar </em>yang pertama kali ia buat, intinya bahwa pertemuan-pertemuan ini akan dilangsungkan beberapa kali hingga tercapai pemahaman akan hidup yang 100 persen Al-Qur&#8217;an, digambarkan di ujung <em>progress bar</em> itu sebuah tulisan 100% dan pertemuan-pertemuan ini adalah <em>progress</em> yang dimaksud.</p>
<p align="justify">O iya, mengenai penjelasan mengapa kita harus 100% Al-Qur&#8217;an, saya disuruh membuka <em>mushaf</em> yang ada di lemari sebelah kiri. Hmmm&#8230; sebuah Al-Qur&#8217;an dan terjemahannya, terbitan Departemen Agama, menyintir 24.1, maksudnya Surat An-Nuur ayat 1:</p>
<p>&#8220;<em>(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya</em>.&#8221; [QS.24:1]</p>
<p>Jadi surat An-Nuur ayat 1 inilah yang menjadi tonggak dasar diskusi hari itu, yang selanjutnya saya yakin selalu dijadikan dalil utama mencapai 100% Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Sebetulnya ketika membuka halaman Surat An-Nuur ini, saya lebih tertarik kepada ayat 3 yang berada di paling bawah halaman <em>mushaf</em> tersebut:</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.</em>&#8221; [QS.24:3]</p>
<p align="justify"><em>Arrrrrrrrrrghhhhh&#8230;. </em><em>tobaaaat-tobaaaaaaaat!!!!!!!</em></p>
<p align="justify">Baiklah, kembali ke laptrop. <img src='http://blog.lulus.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Saya pun mengajukan pertanyaan&#8230; TR adalah Tuan Rumah</p>
<p align="justify"><strong>L : </strong>apa menjadi 100% Al-Qur&#8217;an ini artinya betul-betul hanya mengacu kepada Al-Qur&#8217;an tanpa mempedulikan aspek yang lain?</p>
<p align="justify"><strong>TR:</strong> Iya</p>
<p align="justify"><strong>L: </strong>Lalu bagaimana dengan Hadits dan Sunnah Rasul?</p>
<p align="justify"><strong>TR </strong>(nampak bingung) <strong>:</strong> Iya, nanti kita sama-sama belajar tentang ini&#8230;</p>
<p align="justify"><strong>L: </strong>Kalau kita menerapkan 100% Al-Qur&#8217;an, bagaimana dengan sholat&#8230; bukankah di dalam Al-Qur&#8217;an hanya tertulis dirikanlah Sholat tanpa ada penjelasan Sholat apa nih&#8230; Darimana kita tahu kalau dalam satu hari itu kita diwajibkan Sholat Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya bila hanya benar-benar 100% merujuk kepada Al-Qur&#8217;an, tidak pernah kelima waktu Sholat ini disebutkan dalam Al-Qur&#8217;an, tidak pernah disebutkan Sholat Shubuh itu dua raka&#8217;at, Sholat Dzuhur itu empat raka&#8217;at, Ashar empat raka&#8217;at juga, Maghrib tiga raka&#8217;at, dan Isya empat raka&#8217;at&#8230; tahu darimana kita kalau yang disebut Sholat itu yang diawali oleh niat, takbiratul ikhram, membaca Al-faatihah, ada ruku&#8217;nya, ada sujudnya, ada tasyahud awal, tasyahud akhir, salam.. dan sebagainya sedangkan tidak ada ayat dalam Al-Qur&#8217;an yang menerangkan rukun Sholat itu apa, Sunah di dalam Sholat itu yang mana?</p>
<p align="justify"><strong>TR:</strong> &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p align="justify"><strong>L:</strong> Tadi disebutkan bahwa unsur-unsur di dalam Al-Qur&#8217;an itu adalah manusia dan bumi, adakah dalil di dalam Al-Qur&#8217;an yang menerangkan hal ini?</p>
<p align="justify">Saya lupa apa yang dijawab oleh TR, tapi saya yakin jawaban yang diberikan tidak ada relevansinya sama sekali dengan hubungan manusia dan bumi ini, bahkan tidak menjawab pertanyaan yang saya lontarkan.</p>
<p align="justify"><strong>L:</strong> Bukan itu maksudnya, setahu saya yang dipasangkan dengan Manusia di dalam ayat-ayat Al-Qur&#8217;an adalah Jin, <em>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku</em>. sedangkan bumi atau dunia di dalam Al-Qur&#8217;an dipasangkan dengan akhirat, <em>di dunia dan di akhirat</em>, belum pernah saya mendengar  ayat yang memasangkan manusia dengan bumi apalagi menyebutnya sebagai unsur Al-Qur&#8217;an. Atau memang ada?</p>
<p align="justify"><strong>TR:</strong> &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p align="justify"><strong>TR:</strong> ya kita nanti sama-sama belajar, kita akan berdiskusi, mungkin anda lebih tahu dari saya</p>
<p align="justify"><strong>L: </strong>hwehehehehe, saya bertanya hal-hal tadi bukan berarti saya lebih tahu dari anda, saya hanya orang awam, gak ngerti apa-apa, cuma ya setahu saya seperti itu tadi&#8230;  (bibir saya gemetaran, mudah-mudahan beliau tidak melihat)</p>
<p align="justify"><strong>TR:</strong> ya, kita nanti sama-sama belajar. Pertemuan selanjutnya datang ya!!!?</p>
<p align="justify"><strong>L:</strong> Insyaallah&#8230; saya tidak tahu apakah masih ada di Bandung atau tidak. (belum terbayang kalau ternyata saya akan pergi ke Banda Aceh)</p>
<p align="justify">Cuplikan di atas adalah rangkuman dari 2x pertemuan yang saya hadiri, pada pertemuan kedua ada tambahan 2 orang peserta. Teman saya sebetulnya juga mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan melogikakan Al-Qur&#8217;an, saya pun menambahkan dengan sebuah ungkapan yang kalau tidak salah adalah milik salah seorang <em>Khulafaurasyiddin </em>tentang melogikakan agama sama saja dengan kita menyemir bagian bawah sepatu.</p>
<p align="justify">Pada pertemuan kedua, saya kira pembahasannya adalah kelanjutan dari pertemuan pertama, seperti halnya <em>progress bar</em> yang telah dibuat, ternyata pembahasannya tidak terprogram seperti itu&#8230; yang menjadi tuan rumah berbeda dengan yang pertama dan yang dibahas pun bukan kelanjutan dari yang sebelumnya. Saya berkesimpulan, tidak teroganisir dengan baik dan tidak memiliki acuan baku, terkesan asal-asalan, meskipun menekankan pada hal yang sama, 100% Al-Qur&#8217;an.</p>
<p align="justify">Saya sempat mengkonfirmasi keheranan saya tentang tujuan pertemuan ini kepada teman saya, ia pun merasa terkejut dan tidak tahu menahu kalau ternyata diskusi yang semula dikira tentang lingkungan  yang kami ikuti berlanjut seperti ini. Dan memang ternyata tidak ada salah seorangpun yang ia kenal di situ.</p>
<p align="justify">Kalau tidak salah salah seorang dari 2 orang peserta yang baru itu sempat melontarkan pernyataan &#8220;Saya tertarik sekali dengan apa yang anda katakan tentang manusia dan bumi adalah unsur, selama ini saya hanya mengetahui unsur-unsur itu seperti <em>Ferrum, Cuprum, </em>Oksigen<em>, </em>Karbon, Nitrogen dan sebagainya&#8230;.., ternyata manusia dan bumi adalah unsur.&#8221;            <img src='http://blog.lulus.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_eek.gif' alt='8-O' class='wp-smiley' />   <img src='http://blog.lulus.web.id/wp-includes/images/smilies/icon_eek.gif' alt='8-O' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Pertemuan ketiga saya tidak datang, selain memang karena waktu itu saya sedang tidak enak badan, saya merasa kurang <em>sreg</em> dengan pembahasan ini. Dan pertemuan selanjutnya dan pertemuan selanjutnya pun saya tidak pernah datang lagi.</p>
<p align="justify">Saya mencoba mencari apa memang ada pemahaman seperti itu, kelompok, ajaran, atau apapun itu, 100% Al-Qur&#8217;an.  Ada seorang teman yang langsung merujuk kepada sebuah aliran, <em>ah&#8230; </em>saya belum berani men<em>judge</em> kawan-kawan yang saya temui waktu itu sebagai aliran tersebut. Di satu pihak saya setuju bahwa memahami Al-Qur&#8217;an secara <em>kaffah </em>itu perlu, akan tetapi <em>Ijtihad </em>setelah Al-Qur&#8217;an kan masih ada peringkat lanjutannya.. yakni <em>Sunnah</em>. Dan setelah Rasulullah SAW wafat, peringkat selanjutnya ditambah lagi dengan <em>Ijma&#8217; </em>dan <em>Qiyas</em>.</p>
<p align="justify"><em>Saya cuma orang awam, hanya sekedar tahu&#8230;, belum&#8230; belum faham&#8230;</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=9</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Diagram Venn</title>
		<link>http://blog.lulus.web.id/?p=8</link>
		<comments>http://blog.lulus.web.id/?p=8#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 11:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>L</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Curahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.lulus.web.id/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke inbox telepon seluler lawas milikku. Isinya diawali dengan sapaan ramah dan hangat dilanjutkan dengan beberapa rangkaian kata-kata yang cukup membuat pikiran kosongku di tengah suasana lengang itu cukup berputar. Ya, sampai-sampai aku merubah posisi berbaringku di sofa menjadi duduk agak tegak menatap layar kecil ponsel di tanganku itu.
Sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke <em>inbox</em> telepon seluler lawas milikku. Isinya diawali dengan sapaan ramah dan hangat dilanjutkan dengan beberapa rangkaian kata-kata yang cukup membuat pikiran kosongku di tengah suasana lengang itu cukup berputar. Ya, sampai-sampai aku merubah posisi berbaringku di sofa menjadi duduk agak tegak menatap layar kecil ponsel<em> </em>di tanganku itu.<span id="more-8"></span></p>
<p align="justify">Sebuah permintaan meluncur dari pesan tersebut, memintaku untuk mengambil sebuah sudut pandang dimana objektifitas adalah kunci utamanya. Cukup sederhana, mengingat pada dasarnya tidak diperlukan <em>effort </em>apapun untuk berada dalam posisi itu. Cukup pandang apa adanya, dan utarakan kebenaran kepadanya, jangan sampai ada campur tangan kecenderungan.</p>
<p align="justify">Oke, mudah, kubalas dengan satu sms lain.</p>
<p align="justify">Ponselku kembali berbunyi,  &#8220;1 new message&#8221;, Aha.. ada sambutan. Kubaca sepintas, kali ini adalah garis besar persoalan yang sedang dihadapi. Kali ini pun juga aku tahu harus menjawab apa. (yang mana di akhirnya nanti aku mengatahui bahwa telah salah menangkap makna).</p>
<p align="justify">Saling membalas pesan singkat berlanjut, aku merasa aku bisa menghadapinya, terlebih parameter awal yang telah ditentukan membuat tugasku semakin mudah, apa adanya.</p>
<p align="justify">Babak pun berakhir, di tutup dengan ucapan terima kasih dan beberapa kata yang sampai sekarang aku tidak tahu maksud dan tujuannya.</p>
<p align="justify">Ketika aku sadar bahwa sudah tidak ada lagi pesan lanjutan, aku mereview kembali apa yang telah aku sampaikan pagi itu. Oke, cukup ada rasa marah, cukup ada rasa menyesal, dan cukup ada rasa sakit yang tiba-tiba memaksaku untuk mengizinkan mereka bertengger di dalam diri.</p>
<p align="justify">Hahahaha, <em>it&#8217;s happened twice</em>. Sesuatu hal yang sama telah terjadi dua kali dalam hidupku, atau setidaknya dua momen ini memiliki inti dan efek yang sama, bedanya aku tidak setenang tadi dalam menghadapi momen pertama. Aku yakin, aku telah bertindak lebih bijak dari waktu itu, namun pada akhirnya aku sempat meragukan bahwa apa yang kulakukan adalah suatu kebijaksanaan. Kali ini, aku ingin semuanya mengalir, aku siap dengan derasnya aliran itu, aku ingin tahu kemana aliran ini akan membawaku, karena sebelumnya aku memilih untuk melawan arus, mengeluarkan seluruh <em>tenaga kasar</em>ku untuk membuktikan bahwa aku harus tetap berada di hulu, yang mana ketika aku kehabisan tenaga, aku tenggelam, hanyut dan muncul di tempat yang ternyata bukanlah hilir, tentu saja jauh juga dari hulu.</p>
<p align="justify">Kali ini, aku memilih menjadi pelaut yang berlayar karena angin, bukan karena aku pemilik perahu bermesin. Maka aku biarkan semuanya berjalan seperti apa yang telah terjadi, seperti apa yang &#8220;nampaknya&#8221; telah ditentukan, seperti lazimnya malam mengganti siang.</p>
<p align="justify">Bukan, bukan karena aku menyerah tanpa perlawanan, tapi karena aku tahu bahwa perlawanan itu belum layak dilontarkan, karena aku telah pernah mencoba melontarkan hal yang sama dan mengerti akibatnya.</p>
<p align="justify">Bukan, bukan karena aku takut akan gelapnya jalan di depan, tapi karena aku yakin belum saatnya aku melewati jalan itu, karena aku aku telah pernah mencoba membawa obor pada jalan yang sama dan sadar bahwa satu obor masih kurang.</p>
<p align="justify">Bukan, bukan karena aku tidak ingin menanggung beban, tapi karena aku yakin ada saatnya beban itu akan terangkat dengan sendirinya, karena aku telah pernah mencoba memikulnya dan merasakan bahwa beban itu belum saatnya kupikul.</p>
<p align="justify">Dan aku tahu bahwa akan ada tuduhan lain terhadapku. Aku siap, karena tuduhan itu adalah badaiku, kayu yang melintang di tengah aliran, angin yang meniup oborku. Maka bila aku kuat, aku akan diantarkan olehNya menuju hilirku, aku akan ditunjukkan olehNya lautku, aku akan diberikan olehNya pelitaku, diangkatNya bebanku, dan dimenangkanNya diriku.</p>
<p align="justify">Aku siap&#8230;.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Selang beberapa hari kemudian, aku termenung, aku baru saja mengiyakan sebuah permintaan dimana sebuah sikap harus diambil, mengentaskan kekhawatiran, menjauhi prasangka, memutuskan yang terbaik, dan menentukan langkah selanjutnya.</p>
<p align="justify">Hahahaha, <em>it&#8217;s happened twice</em>. Sesuatu hal yang sama telah terjadi dua kali dalam hidupku, aku juga pernah mengalami momen ini, setidaknya dua momen ini memiliki inti dan efek yang sama. <em>Again??? oh come on!!!!!!!!!!</em></p>
<p align="justify">Aku&#8230; aku adalah himpunan yang beririsan dengan empat himpunan kejadian, yang mana himpunan kejadian pertama beririsan dengan himpunan kejadian ketiga, dan himpunan kejadian kedua beririsan dengan himpunan kejadian keempat.</p>
<p align="justify">Apa pada akhirnya aku hanya menjadi irisan???</p>
<p align="justify">Ya Allah&#8230;.. masihkah aku berani mengatakan siap???</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.lulus.web.id/?feed=rss2&amp;p=8</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
