Jendela Yang Terbuka Setengah

Remaja tanggung itu masih berdiri di luar, menatap papan tulis hitam di dalam kelas melalui jendela yang terbuka setengah. Di dalam, nampak orang-orang yang lebih tua darinya dalam kesibukan masing-masing, mencatat, mengetik, menumpuk dan memilah-milah berkas, semuanya dilakukan dalam kecepatan yang cukup tinggi. Hari ini adalah terakhir, setidaknya begitulah bunyi pengumuman yang ia dengar beberapa hari yang lalu. Tapi bukan itu yang membuatnya sedikit khawatir. Matanya yang tak lepas dari sederet kata yang tertulis paling atas dalam rentetan daftar pada papan tulis, itulah yang membuatnya tengah berpikir.  SMAN 5 = 1. Pikirannya kembali menerawang ucapan bapaknya.

“Kakak sepupumu yang satu di SMAN 10,

“Kakak sepupumu yang lain di SMAN 4,

“Kakak sepupumu yang laki-laki di SMAN 5”,

Itu dia, hidupnya yang tak lepas dari kekagumannya terhadap salah satu kakak sepupunya membuat dirinya secara tidak sadar, atau mungkin setengah sadar, memiliki keingingan untuk mengikuti jejak kakaknya ini. Di sekolah yang sama, menekuni hobi yang sama, mengikuti organisasi yang sama, ah… betapa menarik hidupnya nanti karena ia akan menjadi sama dengan orang yang ia kagumi, pikirnya.

Tapi ada yang salah, pasti ada sesuatu yang kurang pas, karena ia tak jua melepaskan pandangannya dari puncak daftar tersebut. Ia tidak mengerti, gerangan apa yang membuat dirinya belum yakin, ia ingin bercerita, ia ingin mengadu, tapi hari ini… dia sendirian.

“Sudah siang,” ia membatin tatkala melihat jam dinding dalam kelas, dari luar melalui jendela yang terbuka setengah.

Ia pun berjalan menjauhi kelas itu, meninggalkan pekarangan, keluar dari gerbang, berjalan dengan pelan, cukup pelan, hingga akhirnya berhenti, tepat di pinggir jalan, di perempatan, 50 meter dari gerbang sekolah. Berhenti, bukan karena hendak menyeberang, berhenti, bukan karena ada kendaraan yang lewat, siang itu sepi, sungguh sepi sekali. Berhenti, karena ia teringat sepenggal ingatan, ingatan satu setengah tahun yang lalu.

Ia berbalik, melangkah, berjalan pelan, setengah berlari, hingga kemudian ia berlari, kencang sekali. Berlari, melewati gerbang, melewati pekarangan, mendekati kelas itu kembali. Berdiri di depan jendela yang terbuka setengah, berusaha menarik perhatian salah seorang pria di dalam kelas, yang lebih tua darinya. Upayanya berhasil, pria itu mendekatinya, dari dalam kelas, melalui jendela yang terbuka setengah.

“Pak…, huh..huh..,” bicaranya tersengal-sengal.

“Pak, masih bisa dirubah kan?” Nadanya penuh harap, tetap tersengal-sengal.

Pria itu seolah mengerti maksud si remaja tanggung, menoleh ke belakang dan bertanya kepada rekannya. Rekannya nampak sibuk selama beberapa saat hingga akhirnya menggeleng kepada pria itu.

“Berkasnya belum dikirim, jadi masih bisa dirubah..”

“Pak, saya mau ke SMAN 3,”

Pria itu terdiam sesaat, kemudian tersenyum. Ia berjalan, menjauhi jendela yang menghalanginya dan si pemuda tanggung, berjalan, mendekati papan tulis hitam yang penuh dengan rentetan daftar, mengambil buntalan kain yang biasa digunakan untuk menghapus tulisan kapur dan ia hapus sebaris paling atas dari rentetan daftar di papan, kemudian ia menuliskan kembali sesuatu.

SMAN 3 = 1

 

Satu Setengah Tahun yang Lalu

Hari ini guru Bahasa Inggris kami gak masuk, yang tengah berdiri di depan adalah guru penganti sementara. Aku gak begitu kenal dengannya, ia mengajar di kelas lain, tapi sesaat saja ia mengajar aku langsung mendapat kesan kalau ia orangnya baik, tutur katanya halus, suaranya lemah lembut, gaya berjalannya anggun.

Entah darimana awalnya, tiba-tiba ia membahas tentang melanjutkan pendidikan, ia berkeliling kelas menanyakan minat murid-muridnya, tidak semua yang ia tanya, hanya beberapa saja, hingga akhirnya ia berjalan menuju ke arahku.

Aku mendapatkan pertanyaan yang sama, kemana minatku untuk melanjutkan pendidikan, namun ada perasaan aneh ketika ia menanyakan itu, seolah-olah ia mengenalku dengan baik, perasaanku menjadi lebih aneh lagi, ketika dalam pikiranku aku tengah diam kebingungan menjawab karena terus terang aku memang belum pernah memikirkan akan melanjutkan kemana setelah selesai sekolah di sini, tiba-tiba ia menyahut

“Ah, Lulus mah mau ke SMAN 3 yah?” 

One Trackback

  1. By CALVIN on 16 July 2010 at 5:51 am


    Pillspot.org. Canadian Health&Care.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy.Best quality drugs. Online Pharmacy. Buy pills online

    Buy:Advair.Aricept.Seroquel.Benicar.Nymphomax.Zocor.Lipitor.Zetia.Female Cialis.Lipothin.Wellbutrin SR.Cozaar.Amoxicillin.SleepWell.Ventolin.Buspar.Acomplia.Lasix.Prozac.Female Pink Viagra….

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*
Copyright © 2007 lifenotes. All rights reserved.