Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke inbox telepon seluler lawas milikku. Isinya diawali dengan sapaan ramah dan hangat dilanjutkan dengan beberapa rangkaian kata-kata yang cukup membuat pikiran kosongku di tengah suasana lengang itu cukup berputar. Ya, sampai-sampai aku merubah posisi berbaringku di sofa menjadi duduk agak tegak menatap layar kecil ponsel di tanganku itu.
Sebuah permintaan meluncur dari pesan tersebut, memintaku untuk mengambil sebuah sudut pandang dimana objektifitas adalah kunci utamanya. Cukup sederhana, mengingat pada dasarnya tidak diperlukan effort apapun untuk berada dalam posisi itu. Cukup pandang apa adanya, dan utarakan kebenaran kepadanya, jangan sampai ada campur tangan kecenderungan.
Oke, mudah, kubalas dengan satu sms lain.
Ponselku kembali berbunyi, “1 new message”, Aha.. ada sambutan. Kubaca sepintas, kali ini adalah garis besar persoalan yang sedang dihadapi. Kali ini pun juga aku tahu harus menjawab apa. (yang mana di akhirnya nanti aku mengatahui bahwa telah salah menangkap makna).
Saling membalas pesan singkat berlanjut, aku merasa aku bisa menghadapinya, terlebih parameter awal yang telah ditentukan membuat tugasku semakin mudah, apa adanya.
Babak pun berakhir, di tutup dengan ucapan terima kasih dan beberapa kata yang sampai sekarang aku tidak tahu maksud dan tujuannya.
Ketika aku sadar bahwa sudah tidak ada lagi pesan lanjutan, aku mereview kembali apa yang telah aku sampaikan pagi itu. Oke, cukup ada rasa marah, cukup ada rasa menyesal, dan cukup ada rasa sakit yang tiba-tiba memaksaku untuk mengizinkan mereka bertengger di dalam diri.
Hahahaha, it’s happened twice. Sesuatu hal yang sama telah terjadi dua kali dalam hidupku, atau setidaknya dua momen ini memiliki inti dan efek yang sama, bedanya aku tidak setenang tadi dalam menghadapi momen pertama. Aku yakin, aku telah bertindak lebih bijak dari waktu itu, namun pada akhirnya aku sempat meragukan bahwa apa yang kulakukan adalah suatu kebijaksanaan. Kali ini, aku ingin semuanya mengalir, aku siap dengan derasnya aliran itu, aku ingin tahu kemana aliran ini akan membawaku, karena sebelumnya aku memilih untuk melawan arus, mengeluarkan seluruh tenaga kasarku untuk membuktikan bahwa aku harus tetap berada di hulu, yang mana ketika aku kehabisan tenaga, aku tenggelam, hanyut dan muncul di tempat yang ternyata bukanlah hilir, tentu saja jauh juga dari hulu.
Kali ini, aku memilih menjadi pelaut yang berlayar karena angin, bukan karena aku pemilik perahu bermesin. Maka aku biarkan semuanya berjalan seperti apa yang telah terjadi, seperti apa yang “nampaknya” telah ditentukan, seperti lazimnya malam mengganti siang.
Bukan, bukan karena aku menyerah tanpa perlawanan, tapi karena aku tahu bahwa perlawanan itu belum layak dilontarkan, karena aku telah pernah mencoba melontarkan hal yang sama dan mengerti akibatnya.
Bukan, bukan karena aku takut akan gelapnya jalan di depan, tapi karena aku yakin belum saatnya aku melewati jalan itu, karena aku aku telah pernah mencoba membawa obor pada jalan yang sama dan sadar bahwa satu obor masih kurang.
Bukan, bukan karena aku tidak ingin menanggung beban, tapi karena aku yakin ada saatnya beban itu akan terangkat dengan sendirinya, karena aku telah pernah mencoba memikulnya dan merasakan bahwa beban itu belum saatnya kupikul.
Dan aku tahu bahwa akan ada tuduhan lain terhadapku. Aku siap, karena tuduhan itu adalah badaiku, kayu yang melintang di tengah aliran, angin yang meniup oborku. Maka bila aku kuat, aku akan diantarkan olehNya menuju hilirku, aku akan ditunjukkan olehNya lautku, aku akan diberikan olehNya pelitaku, diangkatNya bebanku, dan dimenangkanNya diriku.
Aku siap….
Selang beberapa hari kemudian, aku termenung, aku baru saja mengiyakan sebuah permintaan dimana sebuah sikap harus diambil, mengentaskan kekhawatiran, menjauhi prasangka, memutuskan yang terbaik, dan menentukan langkah selanjutnya.
Hahahaha, it’s happened twice. Sesuatu hal yang sama telah terjadi dua kali dalam hidupku, aku juga pernah mengalami momen ini, setidaknya dua momen ini memiliki inti dan efek yang sama. Again??? oh come on!!!!!!!!!!
Aku… aku adalah himpunan yang beririsan dengan empat himpunan kejadian, yang mana himpunan kejadian pertama beririsan dengan himpunan kejadian ketiga, dan himpunan kejadian kedua beririsan dengan himpunan kejadian keempat.
Apa pada akhirnya aku hanya menjadi irisan???
Ya Allah….. masihkah aku berani mengatakan siap???
12 Comments
Judulnya sangat menarik…memancing minat visitor untuk hanyut lebih jauh membaca isi yang akan disampaikan….setelah kubaca pelan aku bergumam
oh sebuah tulisan yang mengalir bagus seperti aliran sungai Bengawan Solo
di musim hujan ….meluap sampai jauh ….sampai -sampai setelah aku baca hingga diujung aksara aku yang digdaya hanyut tiada berguna …. karena setelah kuperas segala daya ….. maaf Mas Lulus awak tetap gak ngarti maksudnya he… …he… (serius : tulisannya bagus mas kalau sampai Bpk. Sapardi Djoko Damono baca blog ini pasti akan dikomentari).
karna berulang, mstinya bs lebih gmpang donk.. jangan malah ngayal jd irisan..;))
tp bagus kata2nya, buat orang ngulang2 lagi bacanya biar ngerti. malah smpe ada yg gk ngerti2 kyak mbah anang diatas itu..hehehehe
Walah mas Wali hidup kadang-kadang berupa perkalian yang pasti dapat dibagi….kadang juga berupa penjumlahan yang pasti juga dapat dikurangi…. oleh karenanya mas Wali mereka yang beruntung adalah mereka yang murat sariro hangroso wani yang selalu bergerak pada penjumlahan dan perkalian itu sendiri….dan tidak pernah mebiarkan dirinya menyeberang kesisi yang sebaliknya. walaupun saya belum mengerti tulisan Diagram Venn diatas namun yang terpenting bisa mengambil hikmah dari ketidakmengertian ini, bukankah hidup ini paradoks…..eellloh lupa aku kok ngobrol-ngobrol ditempat orang….nuwun sewu ya mas Lulus, ijin mas.
hikmah dari ketidakmengertian adalah : Kita Menyadari Bahwa Ternyata Masih Banyak Yang Harus Kita Pelajari dengan kata lain Ternyata Kita Masih **** (ups! disensor).
seperti kata penyair yang gak pernah membuat syair..: Orang yang kliatannya tau segalanya tapi ternyata tidak seperti Pohon Beringin Yang Tidak Punya Akar (gk nyambung ya…heheheee)
eh ijin mas lulus kita nongkrong disini.
Hohoho, ya, mangga..mangga..(bhs sunda - dlm bhs Indonesia artinya silakan)
Mumpung sedang pada nongkrong disini, apa sekalian mau saya buatkan kopi, teh atau susu?
@wali: iya, harusnya lebih gampang, tapi namanya manusia… ada aja pikirannya, saat ini cm bs jadi himpunan irisan, belum mampu menjadi himpunan gabungan
twice, really? oh come on..
baru juga duakali. pepatah bijak kan mengatakan ‘practice makes perfect’ . ahaha.. (seenaknya pisan bilang gituh, heu)
*pengen nekeeeee!!!!!
@uti: gak really, “setidaknya dua momen ini memiliki inti dan efek yang sama”
Hah? pengen nekeeeee siapa?
Hi, very nice post. I have been wonder’n bout this issue,so thanks for posting
Some of us even don’t realize the importance of this information. What a pity.
???????, ?????????!
?????????? ??? ????? + ????
?????????? ??? ????? + ????
?????????? ??? ????? + ????
?????????? ??? ????? + ????
One Trackback
Pillspot.org. Canadian Health&Care.No prescription online pharmacy.Special Internet Prices.PillSpot.org. Vitamins@buy.online” rel=”nofollow”>.…
Categories: Weight Loss.Antibiotics.Mental HealthAnxiety/Sleep Aid.Antidepressants.Eye Care.Blood Pressure/Heart.Anti-allergic/Asthma.Pain Relief.Mens Health.Antiviral.Skin Care.Stomach.Womens Health.Antidiabetic.Stop SmokingVitamins/Herbal Supple…