Seratus Persen

Ramadhan 2006

Pada suatu hari saya mendapatkan sebuah sms, isinya kurang lebih ajakan untuk mengikuti sebuah pertemuan / diskusi yang disebutkan akan membahas tentang lingkungan. Seperti biasa, selalu ada pertanyaan tentang siapa yang mengadakan acara ini. Teman saya ini pun menjawab bla…bla…bla…., hmm, cukup menarik mengingat nama yang disebutkan itu mirip seperti gerakan-gerakan mahasiswa atau masyarakat yang sering kita dengar di televisi, tapi yang ini belum pernah saya dengar. Mungkin karena selama 3 tahun ke belakang berada di Tangerang saya tidak begitu mengetahui perkembangan kota Bandung dan gerakan-gerakan Mahasiswa dan Masyarakatnya. Oke , saya mengiyakan ajakan tersebut.

Rencananya diskusi ini akan diadakan di daerah Dipati Ukur (D.U.), daerah yang notabene adalah kawasan pendidikan dan tempat kos-kos mahasiswa. Karena di daerah tersebut adalah lingkungan mahasiswa Unpad maka saya berasumsi bahwa forum ini adalah prakarsa mahasiswa-mahasiswanya.

Mengenai topiknya, yakni lingkungan, saya sendiri cukup terkejut… kenapa saya yang diajak? apakah ada hubungannya dengan pernahnya saya menjadi pengurus di Divisi Lingkungan di STAPALA, tapi hal ini belum pernah saya publikasikan kepada siapapun karena saya menganggap hal ini tidak begitu penting untuk disebarluaskan, dan telah terjadi pengecualian sejak tulisan ini saya buat… hahaha. Kemudian saya mulai menduga-duga bahwa yang dimaksud adalah lingkungan sosial, hah.. tau apa saya tentang yang satu ini? selain hanya mengkritik tanpa melakukan sesuatu yang real! Yah, apapun alasannya waktu itu, saya cukup excited untuk berencana hadir mengikuti diskusinya. Setidaknya beberapa pengalaman bertemu dengan organisasi yang concern dengan lingkungan membuat saya pede seandainya tiba-tiba saya diminta menjadi narasumber dalam diskusi tersebut, wuahahahaha.. ngarep!!

Pada jam yang sudah ditentukan, saya bertemu dengan teman saya ini di depan Kampus Unpad D.U. , lalu kami bersama-sama menuju lokasi. Hmmm, ternyata bukan di kampus Unpad. Lokasinya berada di kawasan pemukiman di belakang monumen patung Juanda, lebih dikenal dengan sebutan Dago Pakar. Ternyata memang diskusinya diadakan di salah satu rumah, lebih tepatnya kamar kos, di wilayah tersebut. Baiklah, tidak menjadi masalah meskipun hanya menjadi narasumber di forum diskusi yang cukup kecil, hwahahahaha.. teteup ngarep!!

Kami pun masuk, cukup mengherankan, tidak ada tanda-tanda kehadiran peserta-peserta yang dalam bayangan saya haus akan informasi tentang lingkungan entah itu lingkungan dalam artian alam maupun sosial. Hanya ada kami berdua disambut oleh seorang yang berumur masih muda di mata saya (tentu saja saya lebih muda lagi) dan nampaknya teman saya ini lumayan kenal (atau mungkin sekedar tahu). Terpaksa saya menguburkan dalam-dalam keyakinan saya tentang menjadi narasumber ini, euleuh-euleuh…

Kamar kos ini berukuran ± 3×3 meter, lantainya beralaskan karpet yang saya tidak tahu namanya tapi sering kita jumpai di musholla-musholla, terdapat beberapa lemari kecil dan terakhir adalah sebuah whiteboard ukuran sedang, bukan seperti yang digunakan anak-anak untuk belajar menggambar atau belajar menulis “ini bapak Budi, ini ibu Budi, ini anak Budi”. Alih-alih sebagai kamar kos, kamar ini lebih terlihat seperti ruangan rapat atau pertemuan dengan kapasitas ± 10 orang yang duduk dengan rapi, nyaman dan manis, atau ± 15-20 orang dengan punggung menahan tekanan dari belakang dan lutut dengan mesranya mengecup lutut orang di sebelah kiri dan kanan.

Pembicaraan dimulai dengan perkenalan, pertanyaan-pertanyaan tentang STAN (tentunya ditujukan kepada saya), paradigma-paradigma yang ada tentang STAN, pandangan masyarakat awam tentang STAN, mindset yang dikantongi setelah memasuki dunia kerja.. hingga kondisi lingkungan sosial masayarakat sekarang ini (oh, baiklah, ternyata tentang lingkungan sosial), framework masyarakat sekarang, keprihatinan dan bla..bla..bla.. hingga beberapa penyelesaian yang bisa diambil untuk mengatasi kondisi sosial masyarakat sekarang ini. As usual, masalah kripik mengkritik saya boleh dibilang jago dan tetap tanpa pernah melakukan sesuatu yang real. Heyyy, wait a second, its just my feeling atau memang hanya saya yang diberondong pertanyaan oleh tuan rumah sedangkan temanku duduk dengan manis di belakang sebelah kananku dan memperhatikan dengan terkagum-kagum atas beberapa penjelasan saya (jangan terlalu percaya… tapi nampaknya betul). Yap, hanya saya yang diserbu.

Dari perkenalan awal tadi saya tahu bahwa beliau (tuan rumah) bukan mahasiswa Unpad dan bukan juga alumni Unpad, status beliau adalah bekerja. Baiklah, jadi diskusi ini tidak diprakarsai oleh mahasiswa Unpad ataupun yang berhubungan dengan Unpad.

Setelah nampaknya sangat puas dengan jawaban-jawaban saya, beliau mengambil spidol dan menggambar sesuatu di whiteboard yang saya yakini adalah sebuah progress bar. Kemudian beliau mulai menjelaskan tentang kondisi sekitar, tentang kerusakan bumi (nah.. ini dia “lingkungan” yang saya tunggu-tunggu), keprihatinan terhadap pola pikir masyarakat sekarang ini, kerusakan moral, dan lain sebagainya yang merujuk pada kata sifat “pokoknya jelek, rusak, parah deh”.

Lalu beliau menggambar kembali, yang di mata saya seperti pelajaran relasi: ada domain, kodomain, dan kokodomain (???). Penjelasan beliau selanjutnya adalah: Kerusakan-kerusakan, ketidakseimbangan, dan hal-hal buruk yang terjadi adalah karena sudah tidak ada lagi ketaatan manusia terhadap Al-Qur’an, manusia sudah tidak lagi menjalankan apa yang diperintahkan Al-Qur’an secara kaffah. Gambar yang saya deskripsikan sebagai domain ternyata dimaksudkan sebagai Manusia, kemudian kodomainnya adalah Al -Qur’an, dan domain berikutnya adalah Bumi, ada tanda panah dari Manusia mengarah kepada Al-Qur’an, dan satu lagi tanda panah dari Bumi mengarah kepada Al-Qu’ran yang menandakan semuanya merujuk ke Al-Qur’an.

STOP!!! Ke Heula, naha ieu teh jadi masalah agama??? (berhenti!!! tunggu dulu, mengapa daun teh ini jadi dipermasalahkan oleh agama???)

Tentu saja saya tidak meneriakan secara fasih kata-kata di atas, hanya dalam hati. Saya menjadi heran dengan arah pembicaraan beliau, bukannya saya tidak ingin berdiskusi masalah agama, tapi bukankah saya mau diajak ngobrol mengenai lingkungan? atau persepsi dan mindset saya tentang lingkungan yang terlalu naif dan sempit? Baiklah, saya mencoba menerima kondisi kedua, dengan harapan ada penjelasan di akhir.

Selanjutnya beliau menggambar kembali, kali ini saya yakin bentuknya seperti pohon bilangan, dengan objek yang sama. Al-Quran berada di atas, kemudian Manusia berada di bawah samping kiri dan Bumi berada di samping kanan, ada garis yang menghubungkan keduanya dengan Al-Qur’an. Penjelasan beliau adalah, manusia dan bumi adalah unsur-unsur dari Al-Qur’an yang nanti akan dibahas lebih lanjut di pertemuan-pertemuan berikutnya.

Hah, pertemuan-pertemuan berikutnya?

Tuan rumah ini kemudian beralih ke gambar progress bar yang pertama kali ia buat, intinya bahwa pertemuan-pertemuan ini akan dilangsungkan beberapa kali hingga tercapai pemahaman akan hidup yang 100 persen Al-Qur’an, digambarkan di ujung progress bar itu sebuah tulisan 100% dan pertemuan-pertemuan ini adalah progress yang dimaksud.

O iya, mengenai penjelasan mengapa kita harus 100% Al-Qur’an, saya disuruh membuka mushaf yang ada di lemari sebelah kiri. Hmmm… sebuah Al-Qur’an dan terjemahannya, terbitan Departemen Agama, menyintir 24.1, maksudnya Surat An-Nuur ayat 1:

(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam) nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya.” [QS.24:1]

Jadi surat An-Nuur ayat 1 inilah yang menjadi tonggak dasar diskusi hari itu, yang selanjutnya saya yakin selalu dijadikan dalil utama mencapai 100% Al-Qur’an.

Sebetulnya ketika membuka halaman Surat An-Nuur ini, saya lebih tertarik kepada ayat 3 yang berada di paling bawah halaman mushaf tersebut:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.” [QS.24:3]

Arrrrrrrrrrghhhhh…. tobaaaat-tobaaaaaaaat!!!!!!!

Baiklah, kembali ke laptrop. :-D

Saya pun mengajukan pertanyaan… TR adalah Tuan Rumah

L : apa menjadi 100% Al-Qur’an ini artinya betul-betul hanya mengacu kepada Al-Qur’an tanpa mempedulikan aspek yang lain?

TR: Iya

L: Lalu bagaimana dengan Hadits dan Sunnah Rasul?

TR (nampak bingung) : Iya, nanti kita sama-sama belajar tentang ini…

L: Kalau kita menerapkan 100% Al-Qur’an, bagaimana dengan sholat… bukankah di dalam Al-Qur’an hanya tertulis dirikanlah Sholat tanpa ada penjelasan Sholat apa nih… Darimana kita tahu kalau dalam satu hari itu kita diwajibkan Sholat Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya bila hanya benar-benar 100% merujuk kepada Al-Qur’an, tidak pernah kelima waktu Sholat ini disebutkan dalam Al-Qur’an, tidak pernah disebutkan Sholat Shubuh itu dua raka’at, Sholat Dzuhur itu empat raka’at, Ashar empat raka’at juga, Maghrib tiga raka’at, dan Isya empat raka’at… tahu darimana kita kalau yang disebut Sholat itu yang diawali oleh niat, takbiratul ikhram, membaca Al-faatihah, ada ruku’nya, ada sujudnya, ada tasyahud awal, tasyahud akhir, salam.. dan sebagainya sedangkan tidak ada ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan rukun Sholat itu apa, Sunah di dalam Sholat itu yang mana?

TR: …………

L: Tadi disebutkan bahwa unsur-unsur di dalam Al-Qur’an itu adalah manusia dan bumi, adakah dalil di dalam Al-Qur’an yang menerangkan hal ini?

Saya lupa apa yang dijawab oleh TR, tapi saya yakin jawaban yang diberikan tidak ada relevansinya sama sekali dengan hubungan manusia dan bumi ini, bahkan tidak menjawab pertanyaan yang saya lontarkan.

L: Bukan itu maksudnya, setahu saya yang dipasangkan dengan Manusia di dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah Jin, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. sedangkan bumi atau dunia di dalam Al-Qur’an dipasangkan dengan akhirat, di dunia dan di akhirat, belum pernah saya mendengar ayat yang memasangkan manusia dengan bumi apalagi menyebutnya sebagai unsur Al-Qur’an. Atau memang ada?

TR: …………

TR: ya kita nanti sama-sama belajar, kita akan berdiskusi, mungkin anda lebih tahu dari saya

L: hwehehehehe, saya bertanya hal-hal tadi bukan berarti saya lebih tahu dari anda, saya hanya orang awam, gak ngerti apa-apa, cuma ya setahu saya seperti itu tadi… (bibir saya gemetaran, mudah-mudahan beliau tidak melihat)

TR: ya, kita nanti sama-sama belajar. Pertemuan selanjutnya datang ya!!!?

L: Insyaallah… saya tidak tahu apakah masih ada di Bandung atau tidak. (belum terbayang kalau ternyata saya akan pergi ke Banda Aceh)

Cuplikan di atas adalah rangkuman dari 2x pertemuan yang saya hadiri, pada pertemuan kedua ada tambahan 2 orang peserta. Teman saya sebetulnya juga mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan melogikakan Al-Qur’an, saya pun menambahkan dengan sebuah ungkapan yang kalau tidak salah adalah milik salah seorang Khulafaurasyiddin tentang melogikakan agama sama saja dengan kita menyemir bagian bawah sepatu.

Pada pertemuan kedua, saya kira pembahasannya adalah kelanjutan dari pertemuan pertama, seperti halnya progress bar yang telah dibuat, ternyata pembahasannya tidak terprogram seperti itu… yang menjadi tuan rumah berbeda dengan yang pertama dan yang dibahas pun bukan kelanjutan dari yang sebelumnya. Saya berkesimpulan, tidak teroganisir dengan baik dan tidak memiliki acuan baku, terkesan asal-asalan, meskipun menekankan pada hal yang sama, 100% Al-Qur’an.

Saya sempat mengkonfirmasi keheranan saya tentang tujuan pertemuan ini kepada teman saya, ia pun merasa terkejut dan tidak tahu menahu kalau ternyata diskusi yang semula dikira tentang lingkungan yang kami ikuti berlanjut seperti ini. Dan memang ternyata tidak ada salah seorangpun yang ia kenal di situ.

Kalau tidak salah salah seorang dari 2 orang peserta yang baru itu sempat melontarkan pernyataan “Saya tertarik sekali dengan apa yang anda katakan tentang manusia dan bumi adalah unsur, selama ini saya hanya mengetahui unsur-unsur itu seperti Ferrum, Cuprum, Oksigen, Karbon, Nitrogen dan sebagainya….., ternyata manusia dan bumi adalah unsur.”      8-O 8-O

Pertemuan ketiga saya tidak datang, selain memang karena waktu itu saya sedang tidak enak badan, saya merasa kurang sreg dengan pembahasan ini. Dan pertemuan selanjutnya dan pertemuan selanjutnya pun saya tidak pernah datang lagi.

Saya mencoba mencari apa memang ada pemahaman seperti itu, kelompok, ajaran, atau apapun itu, 100% Al-Qur’an. Ada seorang teman yang langsung merujuk kepada sebuah aliran, ah… saya belum berani menjudge kawan-kawan yang saya temui waktu itu sebagai aliran tersebut. Di satu pihak saya setuju bahwa memahami Al-Qur’an secara kaffah itu perlu, akan tetapi Ijtihad setelah Al-Qur’an kan masih ada peringkat lanjutannya.. yakni Sunnah. Dan setelah Rasulullah SAW wafat, peringkat selanjutnya ditambah lagi dengan Ijma’ dan Qiyas.

Saya cuma orang awam, hanya sekedar tahu…, belum… belum faham…

 

7 Comments

  1. Posted 30 March 2008 at 10:07 am | Permalink

    Untuk orang awam yang mengaku belum paham… kamu bisa bikin mereka gelagapan. Memang Lulus oye lah :D

  2. Posted 30 March 2008 at 12:13 pm | Permalink

    Ada yang nerusin ga? temen uti kayanya ada yang ikutan pengajian serupa dan temannya yang lain sangat mengkhawatirkan kalo ternyata pengajian ini tidak berada di jalan yang lurus, yang lalu bertanya2 pendapatku.
    Yaah, meneketempe. lnformasi yang diberikannya sangat terbatas. Perlu lebih banyak informasi ni buat bisa ngasi pandangan. tell me more.. tell me more..

  3. L
    Posted 30 March 2008 at 5:56 pm | Permalink

    @ Rizal: mungkin cm beruntung Zal, masih ketemu sama prajuritnya. Kalo misalkan langsung ketemu perwiranya, bisa jadi saya yang babak belur. Soalnya mesti saya akui, tuan rumah pertemuan kedua nampak lebih experienced dari yang pertama.
    @ Uti: gak tau juga ya, pernah ada yg mau hadir di pertemuan selanjutnya itu, tapi karena dy akhwat dan dia sendirian dy minta diskusinya di tempat terbuka (tau kan alasannya?), tp pihak penyelenggara enggan dan ingin akhwat ini datang aja ke kosan itu. Ya akhwat ini gak mau juga lha, ktnya sih dy gak dtg2 lg setelah itu.

  4. Posted 1 April 2008 at 9:00 pm | Permalink

    Sebuah tulisan yang bagus buat nambah wawasan terutama orang-orang seperti saya yang nggak pernah diundang maupun datang ketempat-tempat perkumpulan yang seperti itu …wah ternyata benar juga ya berita-berita yang ada selama ini buktinya mas Antara mengalaminya langsung ….salut dah atas keberanian pertanyaan-pertanyaan yang diajukan….oke mas antara mumpung masih muda cari pengalaman yang banyak biar punya banyak cerita.

  5. Azzam
    Posted 3 April 2008 at 8:04 pm | Permalink

    Huahaha… ngarep…!!

    1. Mantep.

    2. Mendingan tuh si Akang masih baru kenal. Ntar kalo udah akrab juga dibentak sono dibentrak sini.

    3. …………..STOP!!! Ke Heula, naha ieu teh jadi masalah agama??? (berhenti!!! tunggu dulu, mengapa daun teh ini jadi dipermasalahkan oleh agama???)………..

    Sampe di sini aku yakin bener gimana ekspresimu, haha…

    4. TR (nampak bingung) : Iya, nanti kita sama-sama belajar tentang ini…

    Nampaknya anda salah orang…

  6. Azzam
    Posted 3 April 2008 at 8:43 pm | Permalink

    Heyy.. tunggu dulu, yang mantep itu yang pas lagi…. Ngarepp…!!!! Hehe…

    5. …………bumi atau dunia………………

    Maksudnya sama, kitu? *mikir*
    Ieu teh seurius?

    6. ………..di dunia dan di akhirat…………

    Jadi teringat sesuatu. Betul tidak?

    7. …………..akan tetapi Ijtihad setelah Al-Qur’an kan masih ada peringkat lanjutannya.. yakni Sunnah. Dan setelah Rasulullah SAW wafat, peringkat selanjutnya ditambah lagi dengan Ijma’ dan Qiyas……….

    Ga ngerti - ga ngerti….. Hiks..

    Hmmm… Ya itu, Lus. Sering, yang punya sedikit yang berkeinginan kuat untuk berbagi. Yang punya banyak, ga tau dah kemana dia berbagi. Sering, yang lebih yang diliatin. Yang kurang, ga tau juga kemana dia bersembunyi.

  7. L
    Posted 3 April 2008 at 9:56 pm | Permalink

    @ Azzam:
    1. beneran ngarepp kok…. :-D 2. hwahahahaha…. iya ya… tak semprott aja sekalian
    3. gimana coba???
    4. bener.. kalo ampe jadi belajar bareng.. hwaaaaaaach apa kata dunia!!
    5. persepsiku sih disamain, nyoba2 nyari yg rada mirip, atw jgn2 orang itu gak jawab karna pnyataan dariku emang ga nyambung nya?? hwhahahaha.. biarin!!
    6. Inget apa Zzam? Nikah?
    7. Ya iyalah dikau gak akan ngerti, ibarat kau orang dewasa.. aku ini cuma anak balita yang belum bs ngomong, ceuk sunda na mah balelol keneh, makanya ajarin napa Zzam!!???
    8. ehhh… kelebihan….

    Kayak yang kau bilang Zzam, kalo dah punya banyak biasanya jd pelit, jd mumpung masih sedikit.. kasi daaaah… meskipun yg lebih2nya aja. Yang kurang2 nya nanti aja, menyusul, soalnya belum siap, masih takut terhadap berbagai tuduhan.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*
Copyright © 2007 lifenotes. All rights reserved.